EKONOMI

Penyelenggara MUX Bantu Warga Miskin NTB Beralih ke TV Digital

Petugas memasang set top box (STB) di salah satu rumah tangga miskin. (Tim Komunikasi dn Edukasi Migrasi TV Digital)
Petugas memasang set top box (STB) di salah satu rumah tangga miskin. (Tim Komunikasi dn Edukasi Migrasi TV Digital)


JAKARTA - Penyelenggara multipleksing (Mux) sejak tahun lalu berkomitmen memberi bantuan set top box (STB) bagi rumah tangga miskin (RTM). 

Komitmen itu dipenuhi komplit di empat kawasan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang meliputi Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Barat, Lombok Timur, dan Kota Mataram. 

Seperti diutarakan Ali Sulaiman, warga Lombok. Ia mengaku sudah bisa menonton TV digital sejak medio Mei 2022 lantaran mendapat bantuan STB dari penyelenggara Mux. 

“Sudah sebulan lebih bisa nonton TV digital dengan gambar jauh lebih terang,” ujar Sulaiman, Rabu (22/6/2022). 

Direktur Tata Kelola dan Kemitraan Komunikasi Publik, Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Direktur TKKKP Kominfo), Hasyim Gautama mengatakan, RTM akan mendapatkan bantuan STB gratis dari penyelenggara Mux, baik berasal dari Lembaga Penyiaran Publik (LPP) maupun Lembaga Penyiaran Swasta (LPS).


Khusus RTM di NTB, dia mengimbau tak perlu khawatir jika tidak mendapat STB dari penyelenggara Mux karena penyediaannya akan dibantu oleh pemerintah.

Sedangkan untuk masyarakat yang tidak termasuk RTM, diharapkan bisa segera membeli STB di toko elektronik terdekat atau jika sudah memiliki TV digital tidak memerlukan perangkat tersebut.

“Dalam hal penyediaan alat bantu penerimaan siaran (STB) tidak mencukupi, maka dapat berasal dari pemerintah sesuai PP 46 Tahun 2021,” jelas Hasyim dalam Diskusi Publik Virtual: Sosialisasi Analog Switch Off (ASO) Kementerian Kominfo Bersama Komisi I DPR RI, belum lama ini. 

Lebih lanjut Hasyim mengatakan, masyarakat yang sudah memiliki pesawat TV digital bisa melakukan pindai (scanning) ulang program siaran untuk menerima siaran TV digital.

Pesawat televisi yang sudah ada tuner standar DVBT2 di dalamnya, lanjutnya, otomatis bisa menangkap dan menayangkan program-program siaran TV Digital. Namun, setelah lakukan pindai ulang program, dan siaran yang ada di televisi masih sama dengan sebelumnya, berarti pesawat TV yang dimiliki masih analog.

“Ingat siaran TV Digital itu gambarnya benar-benar bersih dan suaranya canggih. Jadi bila gambarnya masih sama dengan sebelumnya, bisa dipastikan siaran TV digital belum tertangkap,” jelasnya.

Dia menambahkan, pesawat TV analog memerlukan alat tambahan bernama Set Top Box(STB) DVBT2 agar bisa menangkap sinyal TV Digital.

Setelah STB dirangkaikan dengan televisi lama atau tabung, maka siaran TV digital akan tertangkap di pesawat televisi. 

“Pastikan saat membeli STB atau pesawat televisi digital ada keterangan produk telah tersertifikasi Kementerian Kominfo. Tanda sertifikasi memberikan jaminan kesesuaian teknologi, spesifikasi teknis dan keamanannya,” pungkasnya.

Dikutip dari Indonesiabaik.id, penyelenggara multiplexing TV digital di setiap wilayah layanan harus mengalokasikan 50 persen dari slot multiplexing berbasis teknologi Standard Definition (SD) sebagai infrastruktur penyelenggara penyiaran atau konten di luar grup yang bersangkutan.

Jika penyelenggara multiplexing memilih menggunakan teknologi High Definition (HD), maka yang bersangkutan dapat melakukan penyesuaian penggunaan teknologi tersebut.

Ada tujuh Lembaga Penyiaran pengelola MUX yang terikat komitmen untuk menyediakan STB Bantuan bagi RTM. Mereka, yakni MNC Group (Global TV, RCTI), SCM Group (SCTV dan INDOSIAR), Media Group (Metro TV), Nusantara TV, dan Rajawali TV, VIVA Group (TVONE dan ANTV), dan Trans Media (Trans TV dan Trans7).

 

#ASO #analogswitchoff #TVdigital #siarandigitalindonesia #ASO2022


Video Terkait:
Iko Uwais Bakal Jadi Penjahat di The Expendables 4
Editor: Widya Victoria