POLHUKAM

Seteru Cak Imin-Yenny Wahid dan Luka Lama PKB

(Foto: Instagram / asumsico)
(Foto: Instagram / asumsico)


JAKARTA - Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar atau yang lebih tenar dengan sapaan Cak Imin dianggap gagal paham dalam membaca pernyataan Zaanuba Arifah Chafsoh atau Yenny Wahid.

Loyalis Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Imron Rosyadi Hamid menepis serangan yang dilemparkan Imin, dan menyebut telah memanipulasi data.

"Twit Cak Imin yang menyatakan bahwa Mbak Yenny enggak usah ikut campur urusan PKB menunjukkan kegagalan Cak Imin memahami pernyataan Yenny," kata Imron dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan, Kamis kemarin.

Imron menyatakan, PKB di bawah kepemimpinan Imin tetap mengeksploitasi nama atau gambar Gus Dur, meskipun Gus Dur adalah paman yang dilawan Imin secara hukum di pengadilan.

Juru bicara Yenny Wahid itu pun mengatakan, PKB pernah mengalami penurunan suara yang sangat signifikan di pemilihan umum 2009.


Jadi, kata dia, kalau Muhaimin bilang PKB enggak terpengaruh gerakan Yenny, itu tidak punya dasar. Suara PKB saat ini 9,69 persen suara sah nasional tidak melebihi prosentase perolehan PKB saat mengikuti Pemilu 1999 yakni 12,62 persen suara sah nasional.

Dia menegaskan dengan membandingkan angka perolehan 13,57 juta suara di 2019 dengan 13,2 juta suara di dua dekade sebelumnya, menjadi tidak relevan dan manipulatif karena variabel kenaikan jumlah penduduk Indonesia seolah-olah tidak diperhitungkan.

Sementara itu, soal kegagalan partai yang didirikan Yenny Wahid menurutnya bukan semata-mata urusan teknis verifikasi, melainkan ada upaya penggagalan dari beberapa pihak.

"Saya yakin Cak Imin tidak akan mampu buat partai karena PKB saat ini berhasil didirikan tahun 1998 dengan menggunakan jaringan NU di bawah kepemimpinan Gus Dur," ujarnya.

Soal pernyataan Yenny tentang PKB Imin dan PKB Gus Dur, menurut Imron itu merupakan upaya memberikan pemahaman kepada masyarakat, utamanya terkait Pilpres 2024 bahwa keluarga Gus Dur hingga saat ini tidak dalam gerbong Imin.


Luka Lama
Ribut-ribut soal kepemilikan PKB, elektabilitas menjelang Pilpres 2024, hingga ketegangan PKB dengan Nahdlatul Ulama mau tak mau membuka luka lama konflik antara keponakan dengan putri presiden ke-4 RI itu.

Dilansir dari Tirto, Muktamar PKB di Semarang pada 2005 memilih Muhaimin Iskandar sebagai ketua umum yang baru, sedangkan Gus Dur duduk sebagai Ketua Dewan Syura.

Namun, menjelang Pemilu 2009, internal PKB kembali bergolak. Cak Imin dipecat dari jabatannya karena dianggap melakukan manuver dengan “bermain-main ke istana” atau mendekati pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kala itu.

Cak Imin dan para pendukungnya tidak terima, kemudian mengajukan gugatan terhadap Gus Dur ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Isu Muktamar Luar Biasa (MLB) PKB pun mulai mengemuka.

Kabar itu ternyata benar. Kemduain, kedua belah pihak yang berseteru menggelar MLB sendiri-sendiri. Kubu Gus Dur di Parung (Bogor) pada 30 April-1 Mei 2008, sedangkan Cak Imin melaksanakan hajat di Hotel Mercure Ancol pada hari berikutnya.

MLB Ancol memutuskan Cak Imin kembali duduk sebagai Ketua Umum PKB, sekaligus mendepak Yenny Wahid dari jabatan Sekretaris Jenderal PKB dan menunjuk Lukman Edy sebagai penggantinya.

Posisi Gus Dur sebagai Ketua Dewan Syuro juga digusur, digantikan oleh KH Aziz Mansyur.

Putusan pengadilan semakin menguatkan penguasaan kubu Cak Imin atas PKB.

“PKB hanya satu di bawah kepemimpinan Muhaimin dan Lukman Edy,” tandas Wakil Sekjen PKB saat itu, Hanif Dhakiri, dilansir Kompas (18 Mei 2009).

Gus Dur memilih diam dan perlahan tetapi pasti mulai meninggalkan kancah politik hingga akhir hayatnya.

PKB di bawah kendali Cak Imin pasca polemik mengalami masalah. Perolehan suara PKB di Pemilu 2009 merosot drastis, hanya meraih 5.146.122 suara dan anjlok ke urutan 7.

Jatah kursi di parlemen pun berkurang nyaris separuhnya, yakni cuma mendapat 27 kursi.

Namun, Cak Imin cukup sukses membawa PKB bangkit di gelaran pesta demokrasi selanjutnya.

Pada Pemilu 2014, PKB kembali menembus angka 11 juta suara lebih, tepatnya 11.298.957 suara dengan 47 kursi DPR, kendati menempati posisi ke-5. 


Siap Melawan
Wakil Ketua Umum PKB, Jazilul Fawaid mengatakan PKB yang sah berada di bawah pimpinan Cak Imin.

Menurutnya apa yang disampaikan Imin lantaran tidak ingin internal PKB diusik. Selain daripada itu, dirinya menyebut Cak Imin telah berhasil mensolidkan kader PKB. Karena itu, pihaknya tak segan melakukan perlawanan siapa saja yang ingin memecah belah PKB.

“Itu pelurusan. Apa yang disampaikan Gus Muhaimin itu upaya penegasan kepada konstituen, kader dan pengurus PKB agar mengerti posisi masing-masing. Urus saja apa yang menjadi urusannya, jangan campur aduk," kata Jazilul kemarin.

Imron Rosyadi Hamid pun mengungkit cara Cak Imin mengambil PKB tanpa izin Gus Dur. Pengambilalihan itu, kata Imron, melalui Muktamar Luar Biasa (MLB) yang dilakukan PKB kubu Cak Imin pada 2-4 Mei 2008.

Menurutnya, MLB kubu Imin dilakukan tanpa izin Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Dewan Syuro PKB.

"Inilah cara politik yang digunakan Cak Imin mengambil PKB yang seharusnya di bawah kuasa Ketua Umum Dewan Syuro KH Abdurrahman Wahid. MLB berdasarkan AD/ART harus seizin Ketua Umum Dewan Syuro," kata Imron, kemarin.

Tahun 2008, PKB Gus Dur menggelar MLB di Parung Bogor. Sedangkan kelompok Cak Imin melakukan MLB di Hotel Mercure Ancol.

Pada MLB di Hotel Mercure Ancol, Imin terpilih sebagai Ketum PKB, yang kemudian hasil MLB itu disahkan Menkumham. Legalitas PKB Cak Imin pun diperkuat oleh putusan pengadilan.

"Inilah upaya hukum yang dilakukan Muhaimin Iskandar untuk mengambil Kepemimpinan PKB yang seharusnya di bawah kuasa tertinggi di Ketua Umum Dewan Syuro KH Abdurrahman Wahid. Muhaimin menggugat Gus Dur dan Mbak Yenny," kata Imron.

Diberitakan Info Indonesia sebelumnya, hubungan Muhaimin Iskandar dengan Yenny Wahid kembali memanas. Keduanya bahkan saling sindir di media sosial Twitter, Kamis (23/6/2022).

Cak Imin menyindir Yenny Wahid gagal bikin partai, tapi sibuk ikut campur urusan internal PKB.

Pernyataan itu disampaikan Imin lantaran Yenny dalam sebuah acara di Kampus IPDN, Jatinangor, Sumedang, Rabu (22/6/2022), mengatakan bahwa dirinya kini tidak memiliki partai politik. Dia sendiri pernah bernaung di bawah PKB dan sempat menjadi ketua umum Partai Kedaulatan Bangsa Indonesia Baru (PKBIB).

"Saya tidak di partai. Saya tidak punya partai. Saya PKB Gus Dur, bukan PKB Cak Imin," kata Yenny.

Pada kesempatan yang sama, dia juga meminta politikus yang tidak terlalu baik dalam survei untuk tidak memaksakan maju di pemilu presiden (pilpres) 2024 mendatang.

"Kita mengimbau politisi yang surveinya tidak terlalu ngangkat jangan terlalu ngotot (maju Pilpres), yang paling utama ketua umum PKB itu tidak boleh kemudian mengambil posisi berseberangan dengan NU, kasihan umat di bawah," kata Yenny.

Atas pernyataan Yenny, Imin pun bereaksi dengan mengatakan ngapain ikut-ikut ngatur PKB.

"Yeni itu bukan PKB, bikin partai sendiri aja gagal lolos. Beberapa kali pemilu nyerang PKB gak ngaruh, PKB malah naik terus suaranya, jadi ngapain ikut-ikut ngatur PKB, hidupin aja partemu yang gagal itu. PKB sudah aman nyaman kok," tulis Cak Imin.

Yenny pun menanggapi kicauan Imin, dengan menyinggung Imin bisanya mengambil  partai punya orang lain.

"Hahaha inggih Cak. Tapi ndak usah baper to, Cak. Dan memang benar, saya bukan PKB Cak Imin. Saya kan PKB Gus Dur. Cak Imin juga belum tentu lho bisa bikin partai sendiri.. kan bisanya mengambil  partai punya orang lain," tulis Yenny.

Editor: Saeful Anwar