WISATA

Wisatawan Pelajari Kisah Penindasan Pribumi di Museum Multatuli

Wisatawan mengunjungi Museum Multatuli di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. (Antara/Mansur)
Wisatawan mengunjungi Museum Multatuli di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. (Antara/Mansur)


LEBAK - Wisatawan domestik dan mancanegara memadati Museum Multatuli di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, untuk mengetahui sejarah penindasan kehidupan masyarakat pribumi saat zaman kolonial Belanda yang tertuang dalam buku Max Havelaar.

"Hari ini pengunjung yang datang ke sini di atas seribu orang," kata Kepala Museum Multatuli, Ubaidillah Muktar, Sabtu (25/6/2022).

Dia mengatakan, melonjaknya pengunjung museum karena pemerintah sudah melonggarkan kegiatan masyarakat menyusul kasus COVID-19 yang melandai.

Wisatawan domestik dari berbagai daerah di Tanah Air mayoritas datang bersama rombongan menggunakan angkutan bus dan kendaraan pribadi. Selain itu, terdapat juga wisatawan mancanegara dari Belanda dan Skotlandia.

Mereka umumnya mengunjungi Museum Multatuli untuk memuaskan keingintahuan kehidupan masyarakat Nusantara di era pemerintahan kolonial Belanda.


Di mana, tahun 1859, Eduard Douwes Dekker yang seorang warga negara Belanda membela rakyat Indonesia dengan menulis buku berjudul Max Havelaar. Dalam buku itu ia menggunakan nama samaran Multatuli.

Max Havelaar mengisahkan cerita berupa kritik atas kesewenang-wenangan pemerintahan kolonial pada masa penjajahan.

Karena itu, Museum Multatuli lengkap diisi mulai perjalanan jalinan cerita tentang Batavus Droogstoppel, seorang pedagang kopi dan contoh yang tepat tentang seorang kaya yang kikir.

Cerita ini mengibaratkan orang Belanda mengeruk keuntungan dari warga pribumi yakni masyarakat Kabupaten Lebak yang diperas oleh bupati untuk membayar pajak dan tanam paksa. Selain itu, juga kisah tentang masyarakat lokal tentang kisah asmara Saidjah dan Adinda.

Max Havelaar juga memuat komentar dan tulisan mengenai pengalaman Multatuli yang bekerja untuk pemerintahan Hindia Belanda.

Pada bagian akhir buku, Multatuli menyampaikan permintaan secara sungguh-sungguh langsung kepada Raja William III untuk menghentikan tindakan sewenang-wenang di atas daerah jajahan Belanda.

"Kita optimistis kunjungan wisatawan yang datang ke sini ditargetkan 30 ribu orang bisa terealisasi," kata Muktar.

Sri (45) seorang koordinator wisatawan dari Gereja Bunda Maria Segala Bangsa, Cileungsi, Kabupaten Bogor, mengatakan, dirinya datang bersama 280 siswa yang juga jemaat gereja dari pelajar tingkat SD sampai SMA mengunjungi Museum Multatuli untuk menambah pengetahuan dan keimanan, di mana sejarah Max Havelaar itu adanya penindasan terhadap warga pribumi.

Perbuatan penindasan itu tentu tidak boleh dilakukan oleh semua umat beragama.

"Kami intinya mengunjungi Museum Multatuli itu ingin memberi edukasi kepada jamaah para pelajar itu," katanya.

Sementara itu, Marco Van Veer warga Belanda dan Murrin warga Skotlandia mengatakan dirinya kali pertama mengunjungi Museum Multatuli. Mereka prihatin atas kisah di dalam Max Havelaar yang ditulis Multatuli tentang kerja paksa juga mengeruk harta kekayaan warga pribumi, termasuk pemerasan pajak.

"Kami berharap di tengah peradaban masyarakat yang maju secara global kini sudah tidak ada lagi penindasan," ujar Murrin.

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo