POLHUKAM

BUMN Belum Beres, Erick Thohir Jangan Kebelet Nyapres

Menteri Badan Usaha Milik Negara, Erick Thohir. (Net)
Menteri Badan Usaha Milik Negara, Erick Thohir. (Net)


JAKARTA - Erick Thohir dinilai gagal dalam kepemimpinannya sebagai menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Itu, terkait proyek-proyek di BUMN banyak yang mangkrak atau wanprestasi.

Pengamat Politik Citra Institute, Efriza mengatakan potensi Erick gagal bekerja optimal mengurus BUMN sangat besar terjadi. Dia menilai menteri BUMN itu terlalu kebelet untuk mencalonkan diri sebagai calon presiden atau calon wakil presiden pada Pemilihan Presiden 2024.

Apalagi, jika Erick Thohir berfikir dengan memegang jabatan strategis di pemerintah memiliki kans untuk maju di Pilpres. Tentu, kata dia, ini merupakan sinyal yang cukup kuat bahwa Erick sudah tidak fokus bekerja.

"Tanggung jawabnya bekerja sebagai menteri, sudah bercampur dengan obsesi pribadi, tentu saja, fokus pikirannya terpecah," kata Efriza kepada Info indonesia, Senin (27/6/2022).

Semestinya, Erick menyadari bahwa diperhitungkan di pilpres akan membuat dirinya tidak fokus membenahi BUMN. Erick harus tahu, jika dia benar-benar ingin nyapres, maka harus bisa bertanggung jawab penuh terhadap pekerjaannya sebagai pembantu Presiden Joko Widodo.


Dengan dianggap sukses bekerja sebagai menteri BUMN, dan disertai bukti capaian prestasinya, secara otomatis berdampak positif pada dirinya dan dapat memberikan keyakinan kepada masyarakat bahwa Erick pantas untuk nyapres. 

"Masyarakat akan merasa Erick adalah sosok yang tepat, karena telah berhasil dalam kerjanya, bukan malah mengabaikan kinerja sebagai menteri untuk kepentingan publik, dengan mengedepankan kepentingan pribadi," kata dia.

Erick pun diminta sadar diri, karena dia adalah orang profesional bukan elite partai. Tanpa adanya kinerja nyata, capaian prestasi dan mendapat respons positif dari hasil kinerjanya, Erick tidak akan dilirik oleh partai politik.

"Tentunya kinerjanya yang tak memuaskan juga berpotensi besar menurunkan elektabilitasnya," kata dia.

Sebelumnya, salah satu proyek yang wanprestasi adalah proyek konstruksi bangunan Gedung Alsintan yang digarap perusahaan swasta lokal CV Lintang Raya Timur setelah mendapat kontrak pengerjaan dari BUMN PT Boma Bisma Indra (persero).

Boma Bisma Indra (Persero) sendiri mendapat limpahan sub-kontrak dari sesama BUMN, yakni PT. Barata Indonesia (Persero). Adapun nilai kontrak yang digarap senilai Rp4,98 miliar.

Mirisnya, CV Lintang selaku pihak pengerja proyek tidak menerima hak pembayaran, padahal proyek sudah dikerjakan hingga 50 persen. 


Video Terkait:
Menteri BUMN Angkat Jenderal Dudung Sebagai Komut Pindad
Editor: Saeful Anwar