POLHUKAM

Lonjakan COVID-19 Masih Kategori Aman

Menkes, Budi Gunadi Sadikin. (Net)
Menkes, Budi Gunadi Sadikin. (Net)


JAKARTA - Tren kenaikan kasus konformasi positif COVID-19 di Indonesia masih terjadi. Bahkan kini sudah menembus angka 2.000 lebih kasus per hari, tepatnya 2.068 tambahan kasus pada Jumat (24/6/2022). 

Meskipun demikian, jika menggunakan tolak ukur Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), status Indonesia masih berada di level 1.

"Memang ada kenaikan dari 200 ke 2.000-an kasus saat ini. Tapi puncak gelombang di Indonesia sebelumnya mencapai 60.000-an kasus per hari," kata Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, di JICT Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (26/6/2022). 

Budi menjelaskan, WHO memberikan standar level 1 situasi pandemi di suatu negara dengan indikator 20 kasus per pekan, per 100.000 penduduk. Jika disesuaikan dengan situasi di Indonesia, maka standar level 1 WHO berkisar 7.800 per hari.

"Kalau masih di bawah itu (standar WHO), artinya masih di level 1 PPKM. Di Indonesia saat ini, 2.000-an kasus," katanya.


Budi memastikan reproduction rate nasional masih terkendali sebab berada di bawah 1 persen. Positivity rate nasional masih terkendali di 3,61 persen atau di bawah standar WHO berkisar 5 persen.

Namun diakuinya memang masih ada beberapa provinsi di Indonesia seperti DKI Jakarta dan Banten sudah di atas 5 persen. Misalnya, DKI Jakarta. Budi pun mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan tidak panik menghadapi situasi pandemi saat ini.

Lebih lanjut, Budi memprediksi puncak gelombang subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 di Tanah Air terjadi pada pekan kedua atau ketiga Juli 2022. Hal itu didasari atas pengamatan yang terjadi di Afrika Selatan.

"Kalau polanya sama dengan di Afrika Selatan, perkiraan puncak (di Indonesia) bisa kena di pekan kedua dan ketiga Juli 2022," katanya.

Budi mengatakan, Afrika Selatan merupakan negara asal dari kemunculan subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 yang saat ini sedang mengalami pola peningkatan kasus tersebut.

Kenaikan kasus di Afrika Selatan dalam sebulan terakhir, kata Budi, hanya sepertiga dari kenaikan kasus di puncak Omicron BA.1. Hospitalisasi atau pasien yang dirawat di rumah sakit hanya sepertiga dari puncak Omicron.

"Angka kasus kematiannya sekitar 10 persen dari puncaknya Omicron," ujarnya.

Jika Indonesia meniru pola yang terjadi di Afrika Selatan, kata Budi, diperkirakan puncak kasus di Tanah Air mencapai 30 persen dari puncak Omicron, atau setara 17.000 hingga 18.000 pasien dan setelah itu akan turun kembali.

"Namun dengan jumlah pasien yang masuk rumah sakit dan kematian jauh lebih rendah dari gelombang sebelumnya," katanya.

Sebelumnya, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito, menyatakan, kenaikan kasus positif COVID-19 tak bisa dianggap remeh. 

"Meskipun angka kenaikan ini terbilang tidak tinggi dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia secara keseluruhan, tetapi kenaikan ini merupakan alarm yang perlu kita waspadai," katanya dalam keterangan pers.

Namun, Wiku menilai kenaikan kasus terbilang wajar lantaran mobilitas masyarakat kembali meningkat karena sejumlah pelonggaran. Menurutnya, protokol kesehatan harus kembali dikencangkan, dan setiap individu sedianya turut bertanggung jawab melindungi diri dan untuk orang-orang terdekatnya.

Artikel ini juga bisa Anda baca di Koran Info Indonesia edisi Senin, 27 Juni 2022.

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo