OPINI

Pentingnya Mengajarkan Ilmu Berpikir

Ilustrasi. (Nyarink.com)
Ilustrasi. (Nyarink.com)


WALAUPUN banyak orang mengalami sekolah dan pendidikan, tapi belum tentu orang mendapatkan apalagi menguasai ilmu berpikir. Disebut ilmu berpikir, karena tidak sekedar berpikir atau menjalankan dan mengaktifkan akal. Namun lebih jauh dari itu, bagaimana akal menjalankan fungsinya untuk memecahkan masalah yang dipikirkan dengan tepat dan sistematis.

Pelajaran ilmu berpikir, tidak populer diajarkan. Padahal materi pelajaran inilah yang paling berguna bagi manusia di dalam menghadapi persoalan hidupnya. Dalam tradisi keilmuan universal, disebut logika. Sedangkan dalam tradisi Islam, dikenal dengan ilmu mantiq. Namun, seiring dengan kompleksnya kebudayaan dan peradaban manusia masa kini, ilmu mantiq tradisional yang membahas pembagian operasi berpikir, tentu tidak cukup lagi. Dalam ilmu mantiq luput diajarkan berpikir kompleks atau memeriksa konstruksi berpikir hingga ke level paradigma berpikir dan lain sebagainya. Bagaimana pun, ilmu mantiq tetaplah penting untuk mengenali hasil-hasil pikiran, seperti penggolongan kalimat dan metode berpikir yang sehari-hari digunakan manusia, seperti berpikir induktif dan deduktif.

Sekarang marilah kita perkenalkan seni berpikir kompleks berikut ini. Tentu saja hal ini didasarkan oleh hasil-hasil pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh selama ini oleh penulis. Pada dasarnya, berpikir timbul secara otomatis, manakala akal menemukan apa yang disebut masalah atau persoalan. Tetapi tidak selalu setiap orang dapat menyadari dan mengenali masalah. Tergantung kapasitas dan kemajuan akalnya masing-masing.

Setiap masalah yang disadari, menuntut pemecahan dan jawaban. Proses dari identifikasi masalah hingga pemecahan dan jawaban atas masalah itulah, akal dan seluruh potensinya aktif menelusuri, menerobos dan hingga sampai kepada jawaban yang tepat dan tidak sesat. Akal akan menggunakan pengalaman hidup dan kriteria benar salah sebagai panduan dan rujukan perjalanan pikirannya dalam alam mentalnya hingga berjumpa dengan jawaban. Belakangan abad modern menemukan epistemologi seperti empirisme sebagai kriteria utama dalam menentukan benar salah suatu hasil pikiran. Perkara epistemologi ini sebaiknya akan kita paparkan dalam kesempatan lain. Jadi, inilah rentetan berpikir kompleks yang secara sederhana dapat diketahui dalam rangka memudahkan akal untuk memecahkan masalah.

Pertama start awal tindakan akal ialah Identifikasi Masalah, yaitu menemukan dan mengenali masalah. Bagaimana kita mengenali masalah, hal ini terkait dengan kriteria suatu masalah yang tercetus dalam akal dan hati kita. Di sinilah terjadi perbedaan masing-masing orang dalam menemukan dan menentukan sesuatu sebagai masalah atau bukan. Lantas, selanjutnya Menjaring dan Mengumpulkan Masalah. Setelah itu, Seleksi Masalah. Memilih dan memilah-milah mana Masalah Prioritas dan Utama dan mana yang bukan. Akal dapat menentukan dengan rujukan kriteria Urgen, Esensial & Fundamental. Barulah akhirnya kita dapat merumuskan masalah secara tepat dan fix.


Setelah itu, masuklah pada hal berikut. Akal memetakan. Lalu hadirlah Peta Berpikir. Konstruksi pikir. Kerangka Pikir. Kerangka berpikir ini, penting dan menjadi mercusuar yang menuntun agar proses berpikir tidak lari kemana-mana dari arah tujuan. Kemudian maju kepada Tujuan Berpikir. Sasaran Pikir. Arah Akhir Berpikir. Goal berpikir. Inilah yang harus dikejar dari kegiatan akal dalam memecahkan masalah dimaksud. Lalu setelah jernih Tujuan Berpikir atau goal berpikir, beralih kepada Landasan Berpikir. Dasar Pikiran. Asas Pikir. Paradigma. Bila landasan berpikirnya, maka konstruksi berpikirnya juga lemah. Sebagian orang menggunakan doktrin berpikir. Tetapi sebenarnya berbeda antara doktrin dan landasan berpikir. Doktrin sudah menentukan apa yang harus dituju dan titik berangkat berpikir secara kaku. Kadangkala karena kaku, dapat menyulitkan kreativitas akal dalam pekerjaan akal tersebut.

Selanjutnya maju kepada Rute Berpikir. Skema Pikir. Strategi Berpikir. Skema berpikir ialah langkah demi langkah yang ditempuh dan disusuri oleh akal untuk tiba di tujuan berpikir, yaitu hasil akhir dari serangkaian kerja akal terfokus tersebut. Jadi di sini, berpikir yang kita maksud bukanlah berpikir impulsif, reaktif, tetapi kerja akal terfokus, sistematis dan terkonstruksi. Ilmu berpikir semacam inilah yang jarang diajarkan di sekolah kita. Setelah rute berpikir atau skema berpikir dimasuki, maka maju kepada Cara Berpikir. Metode Berpikir. Teknik Berpikir. Ini ibarat jika Anda sudah tahu jalan tersingkat, lancar dan terpendek ke Jakarta dari Bekasi, maka selanjutnya tinggal memilih, naik kendaraannya pakai mobil, motor atau sepeda. Kalau naik mobil, speed-nya berapa, jika naik jalan tol Becakayu atau berapa jika melalui jalan umum biasa. Inilah metode. Ini soal teknis semata.

Hasil akhirnya, ialah sampai di suatu lokasi di Jakarta seperti yang sudah diinginkan. Begitu, lebih kurang keterangan Ilmu Berpikir yang disajikan dalam artikel pendek ini. Semoga bermanfaat. Karena sebenarnya ilmu praktis semacam ini bermanfaat dalam kehidupan yang sarat propaganda dan agitasi di zaman ini, yang tujuan dari agitasi dan propoganda tersebut untuk melenyapkan berpikir kritis kita.

Syahrul Efendi Dasopang
(Pengajar Mata Kuliah Logika Hukum dan Filsafat Hukum)

Artikel ini juga bisa Anda baca di Koran Info Indonesia edisi Senin, 27 Juni 2022.

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo