POLHUKAM

Ganja Untuk Medis, Desmond: Manfaat Bagi Kesehatan dan Ekonomi Luar Biasa

Komisi III DPR RI Akan Minta Masukan Dari Pakar dan Masyarakat

Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Desmond Junaidi Mahesa. (Net)
Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Desmond Junaidi Mahesa. (Net)


JAKARTA - Komisi III DPR RI akan meminta masukan pakar dan masyarakat, terkait adanya usulan penggunaan ganja untuk medis, agar dimasukkan dalam revisi Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Desmond Junaidi Mahesa mengatakan, pihaknya akan melihat dulu nilai manfaat dan kerugian dari penggunaan ganja untuk medis.

Sejauh ini, berdasarkan informasi dari kajian yang didapat, ternyata nilai manfaatnya bagi kesehatan dan ekonomi luar biasa. Sementara kerugiannya kecil.

"Itu menurut informasi dari kesehatan," kata Desmond kepada wartawan, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (28/6/2022).

Politisi Partai Gerindra ini menjelaskan, Komisi III DPR akan menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) pada hari, Kamis (30/6/2022) untuk meminta pandangan dari masyarakat terkait penggunaan ganja untuk medis.


Menurut dia, sangat penting untuk mendengarkan pendapat ahli kesehatan apakah penggunaan ganja berbahaya atau tidak dari sudut pandang kesehatan.

"Lalu dampak ekonominya apa? Jangan sampai kita menahan sesuatu yang ternyata nilai manfaatnya lebih besar daripada kerugiannya. Ini yang perlu dikaji," kata Desmond.

Desmond mengatakan, di Belanda dan Thailand sudah membebaskan penggunaan ganja, khususnya untuk kepentingan medis. Karena itu, kata dia, catatan-catatan dari sisi kesehatan dan ekonomi akan menjadi catatan Komisi III DPR yang akan dibicarakan saat pembahasan revisi UU Narkotika.

Diberitakan sebelumnya, di media sosial viral soal penggunaan ganja untuk medis. Melalui akun Twitter pribadinya, penyanyi Andien Aisyah mengunggah foto seorang warga bernama Santi Warastuti yang membawa poster besar bertuliskan "Tolong, anakku butuh ganja medis" di Car Free Day (CFD) Bundaran HI Jakarta, Minggu (26/6/2022).

Dalam aksi tersebut, Santi terlihat didampingi seorang pria paruh baya bersama seorang anak yang tergolek lemah di stroller. Anak tersebut bernama Pika, buah hati Santi dan suaminya yang bernama Sunarta.

Dia mengidap cerebral palsy atau gangguan yang memengaruhi kemampuan otot, gerakan, hingga koordinasi tubuh seseorang.

Ternyata aksi yang dilakukan Santi bertujuan mendesak hakim Mahkamah Konstitusi (MK) untuk segera memutuskan gugatan uji materi terhadap Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yang ia mohonkan.

Santi bersama Sunarta dan Pika datang dari Yogyakarta ke Jakarta untuk menyampaikan surat harapan ke MK terkait itu. Sebab, sudah hampir dua tahun MK tak juga memutuskan perkara uji materi tersebut. Padahal, Pika yang mengidap cerebral palsy membutuhkan terapi minyak biji ganja atau CBD oil untuk mengupayakan kesembuhannya.

Editor: Saeful Anwar