POLHUKAM

Besar Kemungkinan Misi Perdamaian Sukses

Jokowi Naik Kereta Api Menembus Kiev

Presiden Jokowi dan Ibu Negara menuruni tangga pesawat setelah mendarat di Bandar Udara Internasional Rzeszow-Jasionka, Polandia, Selasa (28/6/2022) sekitar pukul 11.50 waktu setempat atau 16.50 WIB. (BPMI Setpres/Laily Rachev)
Presiden Jokowi dan Ibu Negara menuruni tangga pesawat setelah mendarat di Bandar Udara Internasional Rzeszow-Jasionka, Polandia, Selasa (28/6/2022) sekitar pukul 11.50 waktu setempat atau 16.50 WIB. (BPMI Setpres/Laily Rachev)


JAKARTA - Presiden Jokowi memulai perjalanan bersejarah ke Ukraina. Membawa misi perdamaian, Jokowi dan rombongan terbatas menumpang kereta api dari kota Rzeszow di Polandia, untuk menemui pemimpin Ukraina, Volodymyr Zelensky, di Kiev.

Setelah menghadiri rangkaian sesi Konferensi Tingkat Tinggi G7 di Jerman, Presiden dan Ibu Negara terbang menggunakan pesawat Garuda Indonesia dari Bandara Internasional Munchen pukul 10.39 waktu setempat atau pukul 15.39 WIB, kemarin.

Sekitar pukul 11.50 waktu setempat atau 16.50 WIB, pesawat Jokowi mendarat di Bandara Internasional Rzeszow, Polandia. Kota terbesar di bagian tenggara Polandia ini terletak 80 km dari perbatasan Ukraina. 

"Jika tak ada aral melintang, malam nanti (Selasa malam waktu setempat), saya akan menempuh perjalanan dengan kereta api selama kurang lebih 12 jam menuju Kiev, ibu kota Ukraina,” terang Presiden via akun twitter @jokowi.

Tiba di Rzeszow, Presiden dan Ibu Negara disambut oleh Wakil Gubernur Provinsi Rzeszow, Rodoslaw Wiatr, bersama Duta Besar RI untuk Polandia, Anita Luhulima, dan Atase Pertahanan RI Kolonel Adi Triadi beserta istri. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Ukraina, Presiden beristirahat sejenak di salah satu hotel di Rzeszow.


Sekeretaris Kabinet, Pramono Anung, dikutip dari akun instagram pribadinya, mengatakan bahwa Presiden Jokowi selalu mengecek setiap kegiatan dengan detail, termasuk soal perjalanan ke Ukraina dan Rusia, dalam rombongan yang sangat terbatas.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, sudah menjelaskan rencana perjalanan Presiden Jokowi beserta Ibu Negara dan rombongan menuju Ukraina akan melalui Polandia.

Terkait perjalanan Kepala Negara, Menlu mengaku menjalin komunikasi intensif dengan banyak, seperti Presiden Palang Merah Internasional, Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (UN OCHA), Menteri Luar Negeri Turki, dan Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres; selain tentunya pihak Ukraina dan Rusia.

Dikutip dari Kompas TV, Kepala Sekretariat Presiden, Heru Budi Hartono, menjelaskan bahwa ada pembatasan terhadap rombongan Jokowi yang berangkat ke Kiev. Karena itu, beberapa dari rombongan akan tetap tinggal di Polandia.

"Dari sisi kesiapan keprotokoleran, ada batasan-batasan sangat terbatas, rombongan main group (kelompok utama) tidak semua bisa ke Ukraina, sehingga nanti akan stay di kota (di) Polandia,” ucap Heru.

“Waktu tempuh, waktu keberangkatan kami hitung sampai sana (Kiev) pagi, tiba pukul 9-10 pagi, kembali di sore hari itu,” lanjut Heru.

Dalam jumpa pers di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, sebelum memulai lawatan ke luar negeri pada Minggu (26/6/2022), Presiden menjelaskan rencananya menemui Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, di ibu kota negaranya, Kiev.

“Misinya adalah mengajak Presiden Ukraina, Presiden Zelensky, untuk membuka ruang dialog dalam rangka membangun perdamaian karena perang memang harus dihentikan dan yang berkaitan rantai pasok pangan harus diaktifkan kembali," kata Kepala Negara.

Dari Ukraina, Jokowi akan ke Rusia untuk bertemu Presiden Valdimir Putin. Ia membawa misi serupa dalam pertemuannya dengan Putin, yaitu membuka ruang dialog perdamaian, mendorong gencatan senjata sesegera mungkin, serta menghentikan perang.

Presiden Jokowi menjadi pemimpin Asia pertama yang mengunjungi Kiev dan Moskow sejak Rusia melakukan operasi militer di Ukraina pada 24 Februari 2022.

Jokowi menyatakan bahwa rangkaian kunjungan luar negerinya ini penting, bukan hanya untuk Indonesia tapi juga untuk negara-negara berkembang lainnya. 

“Untuk mencegah rakyat negara-negara berkembang dan berpenghasilan rendah jatuh ke jurang kemiskinan ekstrem dan kelaparan," kata dia.

Sebelumnya, Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), Mayjen TNI Tri Budi Utomo, menjelaskan, pihaknya menyiapkan pelindung kepala, rompi antipeluru, serta akan membawa senjata laras panjang, guna melindungi Jokowi selama kunjungan di wilayah perang Kiev.

Beberapa hari sebelum keberangkatan, Tri menjelaskan bahwa lokasi pertemuan Jokowi dan Zelensky berjarak sekitar 350 kilometer dari titik perang Rusia-Ukraina.

Kepastian Putin

Sementara itu, dari Moskow dikabarkan bahwa Presiden Rusia, Vladimir Putin, telah memastikan kesiapannya untuk mengambil bagian dalam pertemuan puncak G20, November nanti, di Bali.

Ajudan Putin, Yury Ushakov, memastikan kesiapan Putin untuk mengikuti KTT G20, tapi rinciannya masih belum ditetapkan.

"Ya, kami telah mengkonfirmasi. Partisipasi kami sudah dijadwalkan,” kata Ushakov kepada media massa, dikutip dari Kantor Berita Rusia TASS, Senin.

Namun, dia tidak yakin apakah Putin akan menghadiri pertemuan itu secara langsung atau berpartisipasi melalui tautan video. 

"Saya tidak tahu, tetapi ada banyak waktu tersisa. Saya berharap situasi pandemi memungkinkan untuk mengadakan forum penting ini secara tatap muka. Saya ingin menghindari menerka-nerka," katanya. 

Ushakov juga menjelaskan bahwa bentuk partisipasi Putin dalam KTT G20 akan dibahas dalam pertemuan Putin dengan Presiden Jokowi pada Kamis besok. 

"Kami berterima kasih (kepada Indonesia) atas undangannya dan mengatakan kami akan tertarik untuk berpartisipasi. Masih banyak waktu. Kita lihat saja. Sejauh ini, itu saja," tambahnya.

Ushakov menganggap undangan resmi kepada Putin sangat penting karena dilakukan di tengah tekanan kuat dari negara-negara Barat terhadap Indonesia yang memegang Presidensi G20. 

Amerika Serikat menyebut invasi Rusia ke Ukraina yang dilakukan sejak 24 Februari 2022 merupakan hal tercela dan penghinaan terhadap tatanan global yang berbasis aturan. Pemerintahan Presiden Joe Biden secara terbuka terus berusaha agar Rusia dikeluarkan dari partisipasi aktif di lembaga-lembaga internasional utama.

Di sisi lain, Presiden Jokowi jauh-jauh hari lalu juga sudah mengundang Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, ke KTT G20 di Bali, walau negara itu bukan anggota G20. 

Jokowi menegaskan bahwa Indonesia ingin KTT G20 menjadi katalisator pemulihan ekonomi dunia. Sementara kalangan analis menilai undangan ke Ukraina bertujuan memastikan kehadiran AS dan sekutunya.

Cukup Menjanjikan

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia (UI), Yon Machmudi, mengatakan, posisi Indonesia dalam blok antara AS dan Rusia juga diperebutkan. AS ingin Indonesia bisa mendukungnya secara tegas. Pada posisi sebaliknya, Rusia juga berkepentingan untuk mendapatkan dukungan moral dari Indonesia.

Dalam melihat situasi seperti ini, kata dia, Indonesia perlu memainkan perannya sebagai penyeimbang diantara kekuatan itu. Karena, bagaimanapun, Rusia bukan hanya melawan Ukraina tetapi juga AS dan NATO.

"Maka upaya untuk menghentikan perang yang disampaikan oleh Indonesia guna memperkuat dialog, saya kira ini menjadi sangat relevan dan cukup menjanjikan," kata Yon kepada Info Indonesia.

Paling tidak, lanjutnya, kunjungan dan dialog Jokowi ke Ukraina dan Rusia dapat mengurangi intensitas perang yang dampaknya ke seluruh dunia.

Di sisi lain, kunjungan Jokowi bisa menjadi contoh bagi negara-negara lain untuk berkunjung juga membawa misi perdamaian ke Ukraina dan Rusia.

"Indonesia, sebagai pihak ketiga, lebih objektif untuk bisa mencoba memberikan alternatif solusi damai di antara kedua negara," ujarnya.

Gencatan Senjata

Pakar hukum internasional yang juga Rektor Universitas Jenderal A. Yani, Hikmahanto Juwana, mengatakan, probabilitas Jokowi menghadirkan gencatan senjata antara Ukraina-Rusia dan mengakhiri tragedi kemanusiaan sangat besar.

Paling tidak ada lima alasan untuk pendapatnya itu. Pertama, baik Rusia dan Ukraina telah lelah berperang. 

Rusia yang menargetkan operasi militer khusus berlangsung cepat hingga sekarang masih berperang di wilayah Ukraina. Demikian pula Ukraina, telah banyak menderita akibat serangan yang memunculkan tragedi kemanusiaan.

Kedua, legitimasi dari kedua pemimpin di masyarakat masing-masing semakin tergerus. Awalnya, Putin dan Zelensky mempunyai legitimasi kuat dari warganya masing-masing. Namun, legitimasi mulai memudar mengingat perang tidak berpihak pada rakyat.

Ketiga, saat ini Rusia dan Ukraina sedang mencari jalan untuk mengakhiri perang secara bermartabat. Mereka tidak ingin 'kehilangan muka’. Putin tidak mau mempermalukan diri dan negaranya sendiri dengan menghentikan serangan secara sepihak.

"Demikian pula bila Presiden Zalensky menyerah maka Zalensky akan kehilangan muka di mata masyarakatnya," kata Hikmahanto.

Keempat, hingga saat ini tidak ada negara yang berinisiatif untuk mengupayakan gencatan senjata. Turki dan Israel pernah mengupayakan tapi gagal karena Rusia dan Ukraina saat itu masih bersemangat untuk konflik bersenjata.

Terakhir, gencatan senjata harus dimulai dari Rusia. Hikmahanto melihat ada indikasi bahwa Rusia hendak menghentikan perang. 

Indikatornya, Rusia bersedia menerima kunjungan Presiden Jokowi meski tahu Indonesia adalah pendukung Resolusi Majelis Umum PBB yang disponsori oleh AS yang mengutuk serangan Rusia sebagai suatu agresi.

"Bila Rusia tidak memiliki keinginan untuk menghentikan perang, tentu Rusia akan menolak kehadiran Presiden Jokowi yang menganggap Indonesia telah berpihak pada AS dan sekutunya," ujar Hikmahanto.

Artikel ini juga bisa Anda baca di Koran Info Indonesia edisi Rabu, 29 Juni 2022.


Video Terkait:
Inilah Sinyal Jokowi Tiga Periode
Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo