POLHUKAM

Ahmad Sahroni Polisikan Lagi Adam Deni

Wakil Ketua Komisi III DPR RI, yang juga Bendahara Umum DPP Partai Nasdem, Ahmad Sahroni. (Net)
Wakil Ketua Komisi III DPR RI, yang juga Bendahara Umum DPP Partai Nasdem, Ahmad Sahroni. (Net)


JAKARTA - Bendahara Umum Partal Nasdem, Ahmad Sahroni kembali melaporkan pegiat media sosial, Adam Deni ke Bareskrim Polri.

Laporan dibuat Sahroni, Kamis malam (30/6/2022) dan terdaftar pada nomor LP/B/0336/VI/2022/SPKT/BARESKRIM POLRI tertanggal 30 Juni 2022.

Wakil Ketua Komisi III DPR RI itu membuat laporan tersebut terkait dugaan pencemaran nama baik. Sahroni menyebut dirinya dituduh membungkam sejumlah pihak dengan uang senilai Rp30 miliar.

Hal itu diungkap melalui akun Instagram pribadinya, @ahmadsahroni88, yang terpantau, Jumat (1/7/2022). Dalam postingan tersebut, Sahroni melampirkan foto surat tanda terima tindak pidana pencemaran nama baik dan/atau fitnah serta sejumlah pasal lain berkaitan dengan ujaran kebohongan.

"Per hari ini saya melaporkan manusia yg menuduh saya membungkam pihak2 terkait dengan jumlah senilai 30 M hanya untuk Membungkam," tulis Sahroni.


Menurut Sahroni, Adam Deni telah melanggar Pasal 310 KUHP dan/atau Pasal 311 KUHP dan/atau Pasal 14 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946. Pelanggaran itu diduga dilakukan Adam Deni pada 28 Juni 2022 sekitar pukul 17.00 WIB di Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Diketahui, kala itu Adam Deni tengah menjalani persidangan kasus yang juga dilaporkan oleh Sahroni.

"Anda berkata kata seenak jidad tp anda ga sadari. bahwa perkataan anda bisa menyebabkan diri anda kena masalah hukum lanjutan...," kata Sahroni menambahkan.

Adam Deni Divonis 4 Tahun

Diketahui, Adam Deni divonis 4 tahun penjara dan denda Rp1 miliar subsider 5 bulan kurungan terkait kasus pelanggaran UU ITE, yang sebelumnya dilaporkan Sahroni.

Hakim menyatakan Adam Deni dan Ni Made bersalah dengan sengaja tanpa hak melawan hukum dengan cara apa pun mengubah, menambah, mengurangi, melakukan transmisi, merusak, memindahkan, dan menyembunyikan dokumen elektronik orang lain yang bersifat rahasia.

"Mengadili, menyatakan Terdakwa Adam Deni Gearaka dan Ni Made Dwita Anggari telah terbukti bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja tanpa hak melawan hukum dengan cara apa pun mengubah, menambah, mengurangi, melakukan transmisi, merusak, memindahkan, dan menyembunyikan suatu dokumen elektronik orang lain yang bersifat rahasia yang mengakibatkan terbukanya suatu informasi yang bersifat rahasia," kata hakim ketua Rudi Kindarto di Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut), Jalan Sawah Besar, Jakpus, Selasa (28/6/2022).

"Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa dengan pidana penjara 4 tahun denda Rp1 miliar subsider 5 bulan.”

Adam Deni lalu menolak vonis 4 tahun penjara yang dibacakan majelis hakim dalam sidang putusan. Pegiat media sosial tersebut bahkan menduga, ada tindak suap yang dilakukan seterunya, Ahmad Sahroni, dalam kasus tersebut.

“Kita lihat saja nanti. Saya berpikir gini lho, seorang Adam Deni itu ditahan sangat mahal. Bisa lebih dari Rp30 miliar. Kenapa?” ujar Adam Deni kepada awak media usai sidang putusan. 

Dia juga menilai proses penangkapan dirinya terkesan instan. “Semuanya serba cepat, dari penangkapan sampai kasus P21. Tuntutan atas saya juga tinggi. Habis berapa puluh miliar saudara AS membungkam saya?” kata dia. 

Adam Deni menegaskan tidak akan takut meski vonis hukumannya cukup berat. “Enggak ada takut, kenapa harus takut? Orang ini kebenaran kok. Kita sama-sama tahu kok dibiarkan?” kata dia.

Pihaknya berencana mengusut dugaan kejanggalan dalam persidangan kasus tersebut. Kuasa hukum, kata Adam Deni, akan membuat surat suara yang akan dia teken di Rutan bareskrim Polri.

“Surat suara itu, bertujuan untuk memeriksa apakah Pengadilan Negeri Jakarta Utara ini menerima suap dari Ahmad Sahroni atau tidak,” katanya.

Meski vonis 4 tahun penjara yang diterima Adam Deni separuh dari tuntutan jaksa, namun sang pegiat media sosial menegaskan akan tetap mengajukan banding atas putusan majelis hakim.

Editor: Saeful Anwar