POLHUKAM

Seperti Ada yang Saling Jegal Usai Kunjungan Jokowi ke Ukraina dan Rusia

Presiden Jokowi bersama Presiden Putin. (Detik.com/Reuters)
Presiden Jokowi bersama Presiden Putin. (Detik.com/Reuters)


JAKARTA - Lawatan Presiden Joko Widodo ke Ukraina dan Rusia pekan lalu terus menjadi sorotan berbagai pihak. Khususnya terkait sikap Ukraina yang seakan menyangkal bahwa Jokowi dititipkan pesan oleh Presiden Volodymyr Zelensky untuk disampaikan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin.

Menurut pakar geopolitik, Hendrajit, ada dua teori yang dapat menjawab kebenaran apakah Presiden Jokowi benar-benar dititipkan pesan oleh Zelensky untuk Putin. Teori pertama, bisa saja Jokowi berbohong, sedangkan yang kedua adalah pesan Zelensky bisa saja dititipkan ke Jokowi akan tetapi sifatnya konfidential dengan asumsi pembawa pesan itu dipercaya oleh kedua belah pihak. Ketika bantahan itu diumumkan oleh pihak Ukraina maka sangat masuk akal.

Hendrajit menjelaskan, pada teori kedua tim pemerintah RI mendatangi Ukraina dan Rusia patut dipersoalkan terkait orientasi kebijakan luar negeri. Menurut dia, sebagai juru damai untuk negara konflik harus memiliki skema dan tema yang tepat agar tujuannya dapat tercapai. 

"Jadi jelas visi misinya. Soalnya kan ini bukan Rusia versus Ukraina, ini soal Rusia versus Blok Barat," terangnya saat diwawancara Info Indonesia, Senin (4/7/2022).

Dia mengatakan, sejatinya pesan yang dibawa Presiden Jokowi itu benar dan kemudian diumumkan ke publik menandakan bahwa pesan atau surat itu bersifat rahasia. Dapat dikatakan, pesan itu merupakan komunikasi personal Zelensky dengan Putin dan hanya beberapa orang saja yang mengetahui isinya.  


"Kalau benar teori kedua ini, Jokowi bukan bohong tapi merusak misi dari pesannya itu sendiri sebagai juru damai," ujar Hendrajit.

Jika demikian, yang menjadi pertanyaan besar adalah apakah Jokowi melakukan blunder diplomatik. Menurut Hendrajit, hal itu dapat dilihat dari sikap pemerintah Rusia, dalam hal ini Juru Bicara Kremlin yang mengatakan bahwa pesan dari Zelensky kepada Putin benar adanya tetapi tidak tertulis. Jika kenyataan seperti itu maka pesan tersebut merupakan rahasia. Bahkan, juru bicara pemerintah Rusia tidak membantah adanya pesan lisan dari Zalensky kepada Putin. Tetapi, yang menjadi menarik mengapa pesan tersebut diketahui oleh publik. 

Pengamat politik luar negeri itu mengatakan bahwa pernyataan pemerintah Rusia tersebut menyelamatkan Presiden Jokowi dan Indonesia yang dianggap berbohong untuk hal begitu sensitif dalam bidang diplomasi.

"Berarti bisa kita katakan adanya pesan lisan itu faktual, bukan omong kosong. Tapi dalam jurnalistik yang benar, fakta belum otomatis kebenaran itu sendiri. Fakta seperti juga informasi masih berupa bahan mentah pengetahuan untuk diolah jadi wawasan," papar Hendrajit.

Dia mengatakan bahwa masih menjadi tanda tanya besar apakah Zelensky benar-benar menitipkan pesan kepada Jokowi untuk Putin. Di sisi lain, atas dasar apa Zelensky menitipkan pesan tersebut melalui Presiden Jokowi. 

Pada aspek ini, kekisruhan yang terjadi terletak di manajemen Istana. Sepertinya, ada dua instansi pemerintahan yang memiliki pandangan bertolak belakang dalam menjabarkan misi Presiden Jokowi ke Ukraina dan Rusia. 

"Alhasil bukan sinkronisasi antar-kedua instansi yang terjadi, malah menimbulkan perang senyap dan saling jegal-menjegal sehingga berakibat memalukan," jelas Hendrajit.

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo