POLHUKAM

Masuk Mal Wajib Sudah Booster

Ilustrasi. (Net)
Ilustrasi. (Net)


JAKARTA - Capaian vaksinasi booster di Indonesia masih terbilang rendah. Untuk itu, pemerintah akan memberlakukan vaksin booster sebagai syarat mobilitas masyarakat ke area publik.

Syarat ini akan mulai diterapkan maksimal dua minggu mendatang.

Hal ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan seusai menghadiri rapat terbatas yang dipimpin Presiden Jokowi dengan agenda evalusi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Kebijakan baru tersebut akan diatur melalui peraturan Satgas Penanganan COVID-19 dan peraturan turunan lainnya.

"Selain itu, pemerintah juga akan kembali menerapkan persyaratan vaksinasi booster sebagai syarat perjalanan baik udara, darat, maupun laut, yang akan dilakukan maksimal dua minggu lagi," kata Luhut yang juga koordinator PPKM Jawa-Bali dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (4/7/2022).


Berdasarkan data dari berbagai sumber ditemukan bahwa peningkatan kasus COVID-19 di beberapa negara terjadi begitu signifikan, seperti di Prancis, Italia, dan Jerman.

Kenaikan signifikan juga terjadi di negara tetangga, Singapura. Kendati demikian, kabar baiknya, Indonesia menempati posisi terendah pada kasus harian terhadap populasi, jika dibandingkan beberapa negara tetangga lainnya.

Meski begitu, berdasarkan data PeduliLindungi, dari rata-rata orang masuk mal per hari sebesar 1,9 juta orang, hanya 24,6 persen yang sudah booster.

Di tengah peningkatan kasus yang terjadi, hal ini tentu sangat mengkhawatirkan, mengingat antibodi masyarakat akan semakin berkurang.

"Untuk mendorong vaksinasi booster, syarat perjalanan dan masuk tempat umum seperti mall dan perkantoran, akan diubah jadi vaksinasi booster. Sentra vaksinasi di berbagai tempat, seperti bandara, stasiun kereta, terminal, dan pusat perbelanjaan juga akan diaktifkan kembali untuk memudahkan masyarakat mengakses vaksinasi," ungkap Luhut.

Wakil Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN) itu menambahkan, pemerintah juga telah meminta kepada TNI, Polri, serta pemerintah daerah untuk kembali mendorong kebijakan vaksinasi dan juga tracing (pelacakan).

Hal itu dilakukan untuk mencegah kenaikan kasus secara meluas ke depannya sekaligus mempersiapkan langkah-langkah mitigasinya.

"Pemerintah hingga hari ini masih dan akan terus memberlakukan aturan PPKM Jawa-Bali hingga waktu yang masih belum ditentukan. Semua akan mengikuti hasil evaluasi yang dipimpin langsung oleh Presiden secara berkala," tegasnya.

Sementara dari Kantor Presiden Jakarta, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan arahan Presiden Jokowi agar dilakukan pendekatan sosial yang inovatif sehingga masyarakat antusias divaksin dosis ketiga alias booster.

"Presiden juga sadar orang Indonesia ada cara-cara khusus untuk terpacu mau 'booster'. Sama seperti dulu, orang divaksin susah sekali, tapi begitu masuk mal harus divaksinasi, orang tua mau semua, kenapa? Karena orang tua ternyata senang anter anaknya ke mal," ungkap Menkes.

Budi Sadikin mengakui kebanyakan orang merasa imun tubuhnya cukup dengan vaksin dua kali. "Itu di mana-mana terjadi, tidak di Indonesia saja, orang underestimate atau karena merasa sudah divaksin dua kali dia merasa lebih kuat. Perlu diketahui datanya setelah enam bulan terjadi penurunan, jadi jauh lebih baik, jauh lebih siap, jauh lebih waspada kalau kita segera melakukan vaksinasi booster enam bulan setelah vaksinasi dosis kedua diberikan," jelas Budi.

Vaksinasi booster, menurut Budi, justru akan memberikan perlindungan lebih kepada masyarakat. "Disuntik itu apa sih? Saya sih lebih baik disuntik daripada dicolok hidungnya saat PCR, dan disuntik ini kan buat 6 bulan sekali, saya rasa kita melakukan ini untuk kehati-hatian dan sangat bermanfaat," tambah Budi.

Lebih lanjut, Menkes menyebut sebanyak 81 persen kasus COVID-19 di Indonesia adalah subvarian Omicron BA.4 dan BA.5. "Jadi bukan hanya di Jakarta saja. Jakarta sudah 100 persen BA.4 dan BA.5," kata Budi. 

Subvarian baru BA.4 dan BA.5 pertama yang dilaporkan di Indonesia pada 6 Juni 2022. Empat kasus pertama terdiri dari satu orang positif BA.4 seorang WNI dengan kondisi klinis tidak bergejala serta vaksinasi sudah dua kali, sisanya tiga  orang kasus positif BA.5.

Dari laporan itu disampaikan bahwa transmisi BA.4 maupun BA.5 memiliki kemungkinan menyebar lebih cepat dibandingkan subvarian Omicron BA.1 dan BA.2.

Sementara dilihat dari tingkat keparahan dari BA.4 dan BA.5 tidak ada indikasi menyebabkan kesakitan lebih parah dibandingkan varian Omicron lainnya.

Ada tiga negara yakni Afrika Selatan, Portugal, dan Chili, yang kenaikan kasus COVID-19 dikaitkan dengan meningkatnya kasus BA.4 dan BA.5. Sementara di Indonesia dengan awal kasus BA.4 dan BA.5 pada awal Juni 2022, maka diperkirakan puncak penyebaran kasus adalah pada awal Juli 2022.

Budi pun menegaskan belum ada perubahan kebijakan pemerintah terkait protokol kesehatan. Aturan terakhir seperti yang diumumkan sendiri oleh Presiden Jokowi pada 17 Mei 2022 menyampaikan adanya pelonggaran kebijakan pemakaian masker di area terbuka dengan mempertimbangkan pandemi COVID-19 yang dinilai terkendali.

"Kita lihat kasusnya masih terkendali, pesannya sama, seperti ke masyarakat tetap kebijakan maskernya saat di dalam ruangan dipakai, kalau di luar boleh dibuka asal ketika di kerumunan atau sedang sakit dipakai. Cepat (vaksinasi) booster, InsyaAllah itu respons yang cukup untuk menghadapi Idul Adha dengan normal karena sama seperti Idul Fitri, Alhamdulillah, bisa kita lewati dengan normal," pinta Budi.

Epidemiolog lapangan dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Yudhi Wibowo mengatakan sosialisasi mengenai vaksinasi dosis penguat atau booster harus terus digencarkan guna meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat.

"Sosialisasi bahwa booster berfungsi untuk memberikan perlindungan optimal di tengah pandemi COVID-19 harus terus digencarkan," katanya, seperti dilansir Antara. 

Pengajar di Fakultas Kedokteran Unsoed itu menambahkan bahwa vaksinasi booster terbukti mampu meningkatkan kadar antibodi pada tubuh.

Berdasarkan informasi dari Kementerian Kesehatan, kata dia, hasil sero survei pertama pada November-Desember 2021 menunjukkan 86,6 persen penduduk Indonesia sudah memiliki antibodi terhadap SARS-CoV-2. Pada tahap kedua April 2022, antibodi masyarakat meningkat menjadi 99,2 persen. "Dengan demikian, vaksinasi dosis penguat ini akan sangat bermanfaat dan dapat berdampak positif pada program percepatan penanganan pandemi di Tanah Air," katanya.

Terkait hal itu, Yudhi juga menilai langkah pemerintah yang akan menggencarkan vaksinasi booster, terutama di wilayah dengan capaian yang masih di bawah target nasional merupakan hal yang sangat tepat. "Terlebih lagi pada saat ini terdapat subvarian Omicron BA.4 dan BA.5," katanya.

Dia juga mendukung wacana pemerintah yang akan memberlakukan vaksinasi booster sebagai syarat perjalanan dan kegiatan masyarakat.

"Memang perlu ada program terintegrasi yang membuat masyarakat terdorong untuk melengkapi dirinya dengan vaksinasi dosis penguat," katanya.

Dia menambahkan, upaya antisipasi kenaikan kasus COVID-19 akibat subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 perlu terus diperkuat utamanya dari sisi hilir.

"Penguatan di sisi hilir harus diintensifkan misalkan penyiapan rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan. Harus disiapkan kembali beberapa sarana dan prasarananya," katanya.

Penyiapan sarana dan prasarana dimaksud antara lain ruangan isolasi di rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan, ruang perawatan intensif, dan obat-obatan.

Berdasarkan data Satgas COVID-19 per 3 Juli 2022, total kasus terkonfirmasi positif di Indonesia bertambah 1.614 kasus sehingga total kasus mencapai 6.093.917 kasus. Sedangkan kasus aktif COVID-19 di Indonesia mencapai 16.919 kasus.

Kasus sembuh juga bertambah 1.606 orang sehingga totalnya mencapai 5.920.249 kasus sementara pasien meninggal bertambah 4 orang menjadi total 156.749 sejak pandemi COVID-19 melanda Indonesia pada Maret 2020.

Sedangkan untuk vaksinasi yang dilakukan, pemerintah telah menyuntikkan vaksin dosis pertama COVID-19 di Indonesia sejumlah 201.565.306 dosis, dosis kedua yang sudah disuntikkan adalah sebanyak 169.117.557 dosis dan vaksinasi ke-3 mencapai 50.916.428 dosis. Artinya vaksinasi booster baru 24,5 persen dari total target vaksinasi.

Artikel ini juga bisa Anda baca di Koran Info Indonesia edisi Selasa, 5 Juli 2022.


Video Terkait:
RS Ikut Pemerintah Soal Harga Vaksin Mandiri
Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo