EKONOMI

Investasi Kripto Jangan ‘FOMO’

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Eddy Soeparno. (Net)
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Eddy Soeparno. (Net)


JAKARTA - Masyarakat khususnya generasi muda yang ingin terjun ke investasi blockchain dan kripto untuk memahami aturan dan risiko, bukan karena takut ketinggalan zaman (Fear Of Missing Out / FOMO).

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Eddy Soeparno mengatakan, ketika mau memulai, maka harus tahu fundamental dan risikonya. Sehingga, penting bagi pelaku atau investor sebelumnya untuk memberikan pemahaman dan edukasi kepada calon investor lainnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan Indonesia merupakan negara dengan tingkat kepemilikan aset kripto terbesar keempat setelah Vietnam, India dan Australia.

Menurut data dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), investor kripto di Indonesia pada tahun 2020 berjumlah 4 juta orang. Jumlah ini kemudian meningkat di 2021 menjadi 11 juta orang.

"Selanjutnya, jumlah investor kripto mencapai 12,4 juta pada Februari 2022. Ini membuat jumlah investor kripto melebihi jumlah investor saham yang berjumlah 8,1 juta orang,” kata Eddy di Jakarta, Kamis (7/7/2022).


Hal ini, menurut Eddy, membuat kripto menjadi aset komoditas yang potensial untuk berkembang di Tanah Air, ditambah dengan besarnya generasi muda yang mendominasi demografi Indonesia.

Jumlah penduduk Indonesia adalah 277,7 juta pada Januari 2022. Sebanyak 39 persen didominasi gen Z dan milenial.

Menurut data Bappebti pada akhir 2021, saat ini ada 66 persen investor aset kripto di Indonesia didominasi oleh kedua generasi tersebut.

"Mayoritas investor ini adalah anak muda. Ini membuat kripto menjadi salah satu di antara tren ekonomi baru ke depannya," kata Eddy.

Hal ini, lanjut dia, perlu dibarengi dengan peran berbagai pihak termasuk pemerintah dan asosiasi.

Editor: Saeful Anwar