POLHUKAM

Putin Tantang Negara-negara Barat Kalahkan Rusia di Medan Perang

Presiden Rusia Vladimir Putin bersama Menteri Pertahanan Sergei Shoigu di Moskow, Senin (4/7/2022). (Antara/Sputnik/Kremlin)
Presiden Rusia Vladimir Putin bersama Menteri Pertahanan Sergei Shoigu di Moskow, Senin (4/7/2022). (Antara/Sputnik/Kremlin)


JAKARTA - Presiden Vladimir Putin menantang negara-negara Barat untuk mengalahkan Rusia di medan perang.

Dia memperingatkan bahwa pergerakan Rusia yang berlangsung di Ukraina saat ini bisa dibilang baru saja mulai.

"Hari kini kita dengar bahwa mereka ingin mengalahkan kita di medan pertempuran. Kita bisa bilang apa, biarkan mereka mencobanya," kata Putin pada Kamis (7/7/2022). 

Putin mengeluarkan pernyataan itu ketika menyampaikan pidato di depan para pemimpin parlemen, pertama kali sejak perang mulai berkobar lebih dari empat bulan lalu. Dia memperingatkan bahwa masa depan perundingan akan meredup jika konflik berlarut-larut.

"Kita sudah sering mendengar bahwa Barat ingin memerangi kita untuk membela semua warga Ukraina. Ini adalah tragedi bagi rakyat Ukraina, tapi tampaknya semua mengarah ke sana," jelasnya.


Rusia menuding Barat mengobarkan perang proksi dengan menggempur ekonominya dengan serentetan sanksi serta meningkatkan pasokan persenjataan canggih untuk Ukraina.

Menurut Putin, jelas bahwa sanksi-sanksi Barat menimbulkan berbagai kesulitan, namun sama sekali tidak seperti yang diperkirakan oleh para penggagas serangan ekonomi terhadap Rusia.

Kendati sesumbar bahwa Rusia baru saja melangkah, Putin masih membuka kemungkinan bagi perundingan.

"Semua orang harus tahu bahwa, pada umumnya, kita belum memulai apapun dengan sungguh-sungguh. Pada saat yang sama, kami tidak menolak pembicaraan perdamaian," ujarnya.

"Tetapi mereka yang menolaknya harus tahu bahwa semakin jauh, semakin sulit bagi mereka untuk bernegosiasi dengan kita," kata Putin, menambahkan.

Kepala Juru Runding Ukraina, Mykhailo Podolyak, pekan ini di Twitter menyebutkan syarat-syarat yang diajukan pihaknya untuk dapat melanjutkan pembicaraan.

"Gencatan senjata. Penarikan pasukan Z. Kembalikan para warga negara yang diculik. Serahkan para penjahat perang. Mekanisme perbaikan kerusakan. Pengakuan atas hak kedaulatan Ukraina," jelasnya.

Dilansir Reuters, sejak meluncurkan invasi ke Ukraina pada 24 Februari 2022, pasukan Rusia telah menguasai banyak wilayah di negara itu, termasuk merebut Luhansk di Ukraina timur pada Minggu (3/7).

Tetapi, pergerakan pasukan Moskow sejauh ini lebih lambat dibandingkan dengan yang diperkirakan para analis. Pasukan itu dipukul mundur saat berupaya merebut ibu kota Ukraina, Kiev dan kota utama kedua Kharkiv.

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo