EKONOMI

Kenaikan BBM Bersubsidi Bakal Berdampak Besar Pada Inflasi

Petugas Pertamina menyosialisasikan aktivasi pendaftaran pembelian BBM bersubsidi di SPBU Kota Padangpanjang, Sumatera Barat, Jumat (1/7/2022). (Antara Foto/Iggoy el Fitra)
Petugas Pertamina menyosialisasikan aktivasi pendaftaran pembelian BBM bersubsidi di SPBU Kota Padangpanjang, Sumatera Barat, Jumat (1/7/2022). (Antara Foto/Iggoy el Fitra)


JAKARTA - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi bisa berdampak signifikan kepada pergerakan inflasi, sekaligus menurunkan daya beli masyarakat.

"Kalau misalnya saat ini dinaikkan, maka akan memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi yang kemudian akan menurunkan daya beli," kata pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, Jumat (8/7/2022).

Dia berharap adanya upaya yang lebih terukur dalam melakukan pembatasan, agar penyaluran BBM bersubsidi bisa lebih tepat sasaran ketimbang harus melakukan penyesuaian harga.

Fahmy menjelaskan, berdasarkan data, untuk BBM bersubsidi jenis Pertalite dan Solar, sekitar 60 persen penggunanya tidak sesuai sehingga salah sasaran. Oleh karena itu, jika pembatasan subsidi berhasil dilakukan oleh pemerintah, maka akan terjadi penghematan. Dengan demikian, efektivitas penggunaan BBM bersubsidi dapat mengurangi beban anggaran subsidi dan kenaikan harga tidak perlu dilakukan.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengingatkan kembali bahwa harga BBM jenis Pertalite saat ini merupakan hasil subsidi energi yang berasal dari APBN.


"Negara kita ini masih tahan untuk tidak menaikkan harga Pertalite. Ini kita masih kuat dan kita berdoa supaya APBN tetap masih kuat memberi subsidi. Kalau sudah tidak kuat, mau bagaimana lagi," kata Presiden dalam puncak peringatan Hari Keluarga Nasional Ke-29 di Kota Medan.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden menyampaikan kondisi geopolitik di Eropa berdampak pada harga pangan, energi minyak serta gas di semua negara. Menurutnya, harga minyak saat sebelum pandemi sebesar USD60 per barel, sedangkan saat ini naik dua kali lipat hingga mencapai USD110-120 per barel.

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo