WISATA

Dugaan Pungli di Pantai Seger Meresahkan Wisatawan

Pengunjung menikmati wisata alam di kawasan Pantai Seger, Kuta Mandalika, Lombok Tengah. (Lalu Suparman Ambakti)
Pengunjung menikmati wisata alam di kawasan Pantai Seger, Kuta Mandalika, Lombok Tengah. (Lalu Suparman Ambakti)


PRAYA - Wisatawan diresahkan dengan adanya dugaan pungutan liar di kawasan Pantai Seger, Kuta Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah.

Aksi pungli tersebut berhasil direkam oleh pengunjung dan beredar luas di jejaring aplikasi perpesanan Whatsapp. Rekaman video memperlihatkan seorang pengunjung yang mengancam akan melaporkan oknum petugas yang diduga melakukan pungli. Dengan santainya, petugas itu justru mempersilakan pengunjung untuk melapor ke pihak berwenang.

Pemuda yang belum diketahui identitasnya itu pun mengklaim bahwa area perbukitan di kawasan Pantai Seger adalah milik pribadi.

Salah seorang pengunjung bernama Intan Hulicelan mengatakan, sedikitnya ada tiga portal yang harus dilewati. Pada setiap portal pengunjung diwajibkan membayar Rp10.000.

Setelah sampai area parkir juga diminta biaya kembali per orang yang menggunakan mobil sebesar Rp10.000. Jumlah itu sudah termasuk biaya naik ke atas Bukit Seger.


"Saya ke sana bersama empat orang diminta bayar Rp40.000 kalau mau naik ke bukit. Ya akhirnya saya balik karena merasa risih, serba bayar untuk sekadar menikmati alam," kata Intan bercerita kepada Info Indonesia, Senin (1/8/2022).

Perempuan asal Cirebon, Jawa Barat, itu pun sampai berdebat dengan oknum petugas yang mematok tarif kunjungan. Intan sempat meminta mereka untuk menjelaskan tiket atau tanda bukti bahwa pungutan tersebut resmi dari pemerintah daerah.

"Setelah saya cek tidak ada tuh cap dari pemerintah daerah. Saya tegaskan ke mereka bahwa ini pungutan liar," ungkap Intan.

Ketika harus membayar cukup besar namun dengan fasilitas seadanya, Intan menilai sangat tidak wajar dan justru malah mencoreng dunia pariwisata di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

"Tempat ini kan milik masyarakat NTB dan semua masyarakat berhak menikmatinya, jadi tidak mesti membayar sampai Rp70 ribu. Apalagi toilet tidak ada, musala juga tidak ada. Keamanan parkir pun diragukan, hanya sebatas numpang parkir," tuturnya.

Intan menyayangkan jika ada pengunjung yang ingin menikmati keindahan alam justru diminta pungutan dengan jumlah tidak sedikit.

"Hal-hal seperti ini harus menjadi atensi dan segera ditangani. Kalau begini terus rusak citra pariwisata," keluhnya.

Menanggapi kejadian itu, Kepala Dinas Pariwisata Lombok Tengah, Lendek Jayadi, mengaku geram dengan sikap oknum yang melakukan pungli di tempat wisata.

"Kami akan segera koordinasi. Mereka tidak tahu diuntung," tegasnya.

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo