OPINI

Tidak Ada Formula Dari Laboratorium Indonesia 2045



PEMBENTUKAN lembaga Laboratorium Indonesia 2045 (LAB 45), menarik dari sisi penamaan dan idenya. LAB 45 sendiri bekerja membantu pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju tahun 2045. Namun ketika krisis menghadang seperti saat ini, kemana LAB 45?

Lembaga LAB 45 menyatakan bahwa produknya adalah membuat peramalan strategis. Perencanaan skenario untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan. Serta mitigasi risiko-risiko terhadap perkembangan Indonesia selama 25 tahun ke depan.

Gembar-gembor akan kemampuan LAB 45 saat dibentuk ternyata tidak sesuai kenyataan. Ini dapat dilihat saat krisis ekonomi akibat COVID-19. Peramalan strategis LAB 45 tumpul. Perencanaan skenario untuk mengantisipasinya mandul.

Hasil kerja LAB 45 tidak layak direkomendasikan kepada pemerintah. Selain itu juga tidak ada prestasi dan tidak ada pekerjaan LAB 45 yang ditampilkan kepada publik. Produk hasil kerja LAB 45 hanya dapat diketahui dengan mengakses websitenya.

Dan bila dibaca, laporan yang dibuat LAB 45 seperti materi dosen di kampus. Tidak ada pemikiran baru. Tidak ada terobosan. Sekedar kerja rutin. Like business as usual. Jadi bagaimana mungkin lompatan besar ekonomi Indonesia menjadi negara maju dapat digapai oleh produk yang seperti itu.


Kelemahan dasar LAB 45 adalah karena kualitas sumber daya manusia yang dimilikinya. Orang-orang di LAB 45 sudah lama menjadi sorotan. Karena berisi barisan pendukung Jokowi. Yang kelasnya hanya pendukung fanatik Jokowi. Bukan pemikir strategik Jokowi.

Andi Wijayanto, Makmur Keliat, Jaleswari Pramodhawardhani, Haryadi dan para bawahannya hanyalah tim sorak Jokowi saat pilpres. Jadi bagaimana mungkin dari tim sorak mampu membuat peramalan strategis. Dan bisa membuat perencanaan skenario antisipasi yang akan terjadi bagi Indonesia dalam 25 tahun ke depan.

Dengan demikian lembaga LAB 45 hanyalah proyek-proyekkan, bagi-bagi jabatan, menghabiskan anggaran. Lembaganya sengaja tidak dimunculkan agar tidak menjadi bahan hujatan. Kinerjanya sengaja tidak dipublikasikan ke media massa, karena akan menjadi bahan tertawaan.

Bila situasi ini dibiarkan maka rakyat akan meragukan kesungguhan pemerintahan Jokowi untuk menjadikan Indonesia masuk lima besar ekonomi dunia tahun 2045. Atau rakyat menilai ini hanya sebatas ucapan. Tidak pada tindakan. Seperti sebelum, sebelum dan sebelumnya.

Seharusnya Jokowi serius menyiapkan cita-cita besar Indonesia tersebut. Kekayaan sumber daya alam, kemampuan sumber daya manusia serta pasar besar dalam negeri akan dapat menggapai harapan itu.

Dan untuk mencapainya sudah benar dimulai dari sekarang, 25 tahun sebelumnya. Seperti ketika Suharto dahulu membuat program pembangunan jangka panjang 25 tahun Tahap I. Yang sukses dikerjakannya dari tahun 1968 hingga 1993.

Hanya saja lima tahun setelah Suharto mengumumkan Indonesia telah tinggal landas, ternyata tumbang. Belajar dari pengalaman tersebut, Jokowi sebaiknya menata tim ekonomi politiknya dengan benar.

Mulai dengan merangkul seluruh komponen anak bangsa yang potensial untuk ikut serta membangun Indonesia. Memilih mana para pendukungnya yang memang kredibel dan yang tidak. Dan memilah mana lembaga yang memang pantas diteruskan dan yang tidak.

Setelah delapan tahun pemerintahan Jokowi, sudah selayaknya lembaga-lembaga baru yang dibentuk untuk menampung barisan 'penganggur' pendukung Jokowi mulai dibubarkan. Karena anggaran negara telah kempis dan para pendukung Jokowi sudah kenyang.

Sisa dua tahun ini sebaiknya Jokowi mulai menata pijakan-pijakan yang akan dipakai oleh pemimpin berikutnya. Agar dari situ Indonesia dapat terbang tinggi. Dan tidak dibebani oleh tim buzzer, tim sorak, tim survei, tim KGB (Komunis Gaya Baru) tim OJP (Orang Jokowi di PDIP), tim Solo Raya dan tim Intel Tua (IT).

Nirmal Ilham
(Tenaga Ahli di DPR RI)

Artikel ini juga bisa Anda baca di Koran Info Indonesia edisi Jumat, 5 Agustus 2022.

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo