POLHUKAM

Dibantu Mesir, Israel dan Pasukan Militan Sepakat Gencatan Senjata di Gaza

Tim evakuasi Palestina membantu menolong korban di reruntuhan bangunan akibat serangan roket Israel. (Reuters)
Tim evakuasi Palestina membantu menolong korban di reruntuhan bangunan akibat serangan roket Israel. (Reuters)


JAKARTA - Israel dan kelompok bersenjata di Palestina mengumumkan gencatan senjata pada Minggu malam (7/8/202), tepatnya pukul 23:30. 

Langkah ini membawa angin segar untuk mengakhiri gejolak paling serius di perbatasan Gaza yang terjadi baru-baru ini. Gejolak tersebut merupakan yang terburuk dalam lebih dari setahun terakhir. 

Pengumuman gencatan enjata dipublikasikan secara terpisah oleh Palestina dan Israel. Meski begitu, kedua belah pihak sama-sama berterima kasih kepada Mesir karena menengahi gencatan senjata. 

Sebelumnya, Israel meluncurkan apa yang disebutnya serangan pre-emptive pada hari Jumat (5/8/2022) terhadap apa yang mereka klaim sebagai antisipasi akan menjadi serangan kelompok Jihad Islam yang didukung Iran. Dugaan serangan itu diduga dimaksudkan untuk membalas penangkapan seorang pemimpin kelompok bersenjata, Bassam al-Saadi, di Tepi Barat yang diduduki. 

Sebagai tanggapan, kelompok Jihad Islam menembakkan ratusan roket ke Israel. Pada konferensi pers di Teheran, pemimpin kelompok itu Ziyad al-Nakhala, mengatakan Kairo akan bekerja untuk mengamankan pembebasan al-Saadi.


Mengutip Channel News Asia, Senin (8/8/202), akibat bentrokan selama tiga hari yang terjadi antara Israel dan Palestina terjadi di wilayah Gaza. Otoritas setempat mengumumkan bahwa akibat serangan tersebut, sebanyak 44 warga Palestina, hampir setengah dari mereka warga sipil dan termasuk anak-anak, sejauh ini telah tewas. 

Di sisi lain, kelompok bersenjata di Gaza membalas dengan mengirimkan roket ke sejumlah wilayah Israel, termasuk Tel Aviv dan Ashkelon.


Video Terkait:
Brutal, Al Aqsa Dipenuhi Gas Air Mata
Editor: Amelia