POLHUKAM

KASUS BRIGADIR J

Ngakunya Ngumpet di Balik Kulkas, Brigadir RR Dijerat Pasal 340 KUHP Tentang Pembunuhan Berencana

Ilustrasi. (Dok. Tribunmedan)
Ilustrasi. (Dok. Tribunmedan)


JAKARTA - Brigadir Ricky Rizal (Brigadir RR) menjadi tersangka kedua setelah Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu (Bharada E/RE), dalam kasus kematian Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat (Brigadir J).

Polisi menetapkan Brigadir Ricky Rizal sebagai tersangka pada hari, Minggu (7/8/2022). Brigadir RR yang merupakan ajudan Putri Candrawathi (PC), istri dari bekas Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri Irjen Ferdy Sambo itu dijerat dengan pasal pembunuhan berencana. Brigadir RR pun telah ditahan di Rumah Tahanan Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri.

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian Djajadi saat dikonfirmasi, Senin (8/8/2022), membenarkan soal penetapan tersangka terhadap Brigadir RR.

"Namanya sudah ditahan, pasti sudah tersangka," kata Brigjen Andi Rian.

"Pasal 340 subsider 338 jo 55 dan 56 KUHP."


Akan tetapi, meski Brigadir RR sudah dilebeli tersangka, polisi belum mengungkap peran Brigadir RR dalam kasus ini.


Tidak Ada Adu Tembak
Sandiwara kasus penembakan Brigadir J di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo perlahan mulai terbongkar. Setelah Bharada E ditetapkan menjadi tersangka, Kamis (4/8/2022), kini Brigadir RR menyusul menjadi tersangka dalam kasus kematian Brigadir J.

Setelah ditetapkan menjadi tersangka, Richard Eliezer (Bharada RE/E) perlahan buka suara terkait kebenaran di Duren Tiga, Jakarta Selatan. Ternyata dalam pengakuan Bharada E, tidak ada kejadian adu tembak antara dirinya dengan Brigadir J.

Hal tersebut disampaikan kuasa hukum Bharada E, Deolipa Yumara. Setelah berkonsultasi dengan Deolipa, Bharada E mengakui bahwa keterangan yang selama ini dia sampaikan dalam penyidikan ternyata banyak kebohongan.

"Salah satunya disampaikan skenario tembak-menembak, Bharada E karena bela paksa, ditembak oleh Brigadir J, kemudian dia membalas. Itu salah satunya, ternyata tidak begitu kejadiannya," kata Deolipa.

Kemudian, menurut Deolipa, bukan tanpa sebab kliennya membuat pengakuan bohong selama pemeriksaan. Itu terpaksa dilakukan karena ada tekanan dari luar yang mengharuskan kliennya mengikuti skenario yang telah dibuat oleh atasan.

Deolipa menjelaskan Bharada E situasinya dalam tekanan. Oleh karena itu, kliennya tidak berani mengungkapkan kebenaran. Selain itu, Deolipa juga menjelaskan bahwa sebenarnya Bharada E memang bukan polisi yang mahir dalam menembak.

"Yang kedua Bharada E dibilang jago tembak, ndak begitu juga kejadiannya. Jadi banyak hal yang tidak konsisten. Ya, kalau kejahatan ya begitu, tidak konsisten kalau ditutup-tutupi."

Dalam keterangan lain, Deolipa menyatakan kliennya telah mengatakan pernyataan jujur soal perintah melakukan tindak pidana pembunuhan. Mengakui bahwa dia melakukan hal tersebut karena diperintah oleh atasannya.

"Dia diperintah atasannya langsung. Atasan yang dia jaga," ujar Deolipa seusai dikonfirmasi, Minggu (7/8/2022).

"Perintahnya, ya, untuk melakukan tindak pidana pembunuhan."


Ngumpet di Balik Kulkas
Sebelumnya, sebagaimana yang diungkap Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan, Brigadir RR saat menjalani pemeriksaan mengaku tidak menyaksikan secara keseluruhan kejadian yang menewaskan Brigadir J.

"Kami sudah memeriksa Ricky, ADC yang menyaksikan sebagian saja, tidak menyaksikan secara keseluruhan," kata dia, Selasa (2/8/2022).

Menurut kesaksian Brigadir RR, dirinya tidak melihat kejadian secara keseluruhan karena bersembunyi di balik kulkas, saat terjadi baku tembak antara Brigadir J dan Bharada E. Demikian juga dengan Brigadir J yang katanya menondongkan pistol ke Putri Candrawathi saat melakukan pelecehan seksual, dia mengaku tak melihat kejadian secara keseluruhan.

Brigadir RR disangkakan Pasal 340 KUHP yang mengatur perihal pembunuhan berencana. Untuk Pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) berbunyi, "Barang siapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana, dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun".

Kemudian, untuk Pasal 338 KUHP mengatakan, "Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun".

Sementara, Pasal 55 KUHP bunyinya:
(1) Dipidana sebagai pelaku tindak pidana: Mereka yang melakukan, menyuruh melakukan, dan turut serta melakukan perbuatan; Mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan, ancaman, penyesatan, atau dengan memberi kesempatan, sarana, keterangan, atau sengaja menganjurkan orang lain agar melakukan perbuatan.
(2) Terhadap penganjur, hanya perbuatan yang sengaja dianjurkan sajalah yang diperhitungkan beserta akibat-akibatnya.

Kemudian, Pasal 56 KUHP mengatakan:
Dipidana sebagai pembantu kejahatan:

  1. mereka yang sengaja memberi bantuan pada waktu kejahatan dilakukan;
  2. mereka yang sengaja memberi kesempatan, sarana atau keterangan untuk melakukan kejahatan. 
Editor: Saeful Anwar