POLHUKAM

JOKOWI 3 PERIODE

Jokowi 3 Periode Tetap Masuk Akal

Presiden Jokowi. (Setpres)
Presiden Jokowi. (Setpres)


JAKARTA - Tahapan Pemilu 2024 boleh saja mulai berjalan, tapi gagasan kontroversial 'Jokowi Tiga Periode’ masih bergerilya. Meski terhalang konstitusi, wacana itu masih harum di kalangan jelata dan kerap ketiban momentum untuk membesar. 

Terbaru, pernyataan berani dari politikus senior PDI Perjuangan, Effendi Simbolon, memicu lagi diskursus tentang peluang Presiden Jokowi memimpin pemerintahan satu periode lagi.  

Awalnya, dalam diskusi publik Minggu (7/8/2022) malam, anggota DPR yang sudah empat periode menjabat ini mengutarakan harapannya agar Jokowi memaksimalkan kinerja di sisa periode kedua.

“Saya sangat berharap akhir dari kepemimpinan Pak Jokowi ini akan terus membaik. Jangan dikecewakan, di sisa waktu ini masih ada waktu. Selesaikan nawacita, selesaikan Trisakti, selesaikan poros maritim,” kata Effendi.

Menurut dia, persoalan kinerja Jokowi seharusnya lebih menjadi fokus perhatian publik ketimbang spekulasi dukungan politik yang akan diberikannya kepada tokoh capres 2024.


Dia mengakui banyak prestasi yang Jokowi ukir selama hampir dua periode kepemimpinan. Effendi juga menilai sosoknya masih dibutuhkan bangsa Indonesia untuk menghadapi situasi sulit ke depan.

Karena itulah dirinya tidak akan mempersoalkan bila masa jabatan Jokowi diperpanjang, misalnya tiga tahun, sejauh demi menuntaskan kemantapan dan kemapanan ideologi.

“Tambah tiga tahun bagi saya pribadi, bukan partai (PDIP), saya tidak atas nama partai, saya akan endorse beliau. Karena saya tahu lebih penting imaterial adalah tegaknya NKRI, dan di beliau ada itu,” ucapnya.

Effendi kemudian menyinggung soal wacana amendemen konstitusi untuk menambah batas masa jabatan presiden. Menurutnya, upaya politik itu tidak dilarang sepanjang didorong oleh sembilan fraksi di parlemen. 

“Saya kira tidak ada hal yang dilarang, sepanjang kita sembilan fraksi masuk ke rumah bersama DPD di suatu ruangan, di sidang umum kita ubah. Asalkan jujur ya, jangan (perubahan batas masa jabatan) karena pandemi, karena ini, tidak,” ucap Effendi.

Merespons pernyataan Effendi, dalam diskusi yang sama, pengamat politik sekaligus penggagas Komunitas Jokowi-Prabowo 2024 (Jokpro 2024), M. Qodari, setuju dengan gagasan perpanjangan masa jabatan Jokowi sekaligus menegaskan bahwa presiden mesti tunduk kehendak rakyat.

"Saya tinggal menimpali saja kalau bisa diamanden ngapain tiga tahun, tiga periode saja," kata Qodari.

Menurut Qodari, 'partai' Jokowi sesungguhnya bukan PDIP, atau partai-partai lainnya. 

"Tapi (partainya Jokowi) rakyat. Kalau didukung elite saja tidak ada legitimasi," tambahnya.

Dalam catatan redaksi, wacana Jokowi Tiga Periode timbul tenggelam dalam durasi yang cukup panjang, bahkan sejak pemerintahan Jokowi-Maruf Amin baru terbentuk. 

Gagasan kontroversial ini diyakini bertambah laris selama kelompok akar rumput belum melihat kemunculan calon pengganti yang sepadan.

Dengung Jokowi Tiga Periode justru beberapa kali muncul dari internal pemerintahan sendiri. Padahal, dalam Sidang Kabinet Paripurna awal April 2022, Presiden Jokowi sudah melarang para pembantunya mewacanakan lagi isu perpanjangan masa jabatan presiden dan penundaan Pemilu 2024. 

Namun, seperti diduga sebelumnya, perintah itu tidak cukup manjur untuk menghentikan wacana Jokowi Tiga Periode yang telanjur laris manis di kalangan rakyat jelata.

Beberapa waktu lalu, Ketua Umum Relawan Projo yang juga Wakil Menteri Desa PDTT, Budi Arie Setiadi, menyebut pendukung garis keras alias 'die hard'-nya Jokowi-lah yang mendesak agar presiden diizinkan menjabat selama tiga periode. 

Budi Arie mengaku hanya menyampaikan aspirasi yang berkembang di masyarakat. "Saya hanya bicara bahwa di masyarakat dan di akar rumput ada yang menyampaikan keinginan dan aspirasinya agar Jokowi Tiga periode," kata Budi Arie kepada wartawan, Jumat (10/6/2022).

Dia mengingatkan ada hasil survei yang mengungkap 33 persen respondennya setuju Jokowi menjabat satu periode lagi. Mereka itulah yang diistilahkan die hard-nya Jokowi.

"Artinya ada sepertiga rakyat Indonesia yang menginginkan Jokowi Tiga periode. Itu adalah die hard-nya Jokowi," kata dia.

Dalam penelusuran redaksi, hasil penelitian Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang diumumkan pada Oktober 2021 atau jauh sebelum tahapan Pemilu 2024 dimulai, menunjukkan bahwa 34 persen publik menginginkan Jokowi menjabat presiden satu periode lagi.  

Survei Indikator Politik Indonesia digelar pada 6-11 Desember 2021 juga menemukan peningkatan persetujuan publik agar Jokowi menjabat satu periode lagi menjadi 33,3 persen.

Awal tahun ini, Direktur Eksekutif Indikator Politik, Burhanuddin Muhtadi, pun menegaskan bahwa elektabilitas Jokowi masih tertinggi dibandingkan tokoh-tokoh lain dalam simulasi survei top of mind, meskipun konstitusi tidak mengizinkannya menjadi calon presiden 2024.

Jangan Nanggung

Sekretaris Jenderal Komunitas Jokowi-Prabowo (Jokpro) 2024, Timothy Ivan Triyono,  menilai, apa yang diutarakan Effendi Simbolon memiliki semangat yang sama dengan Jokpro. Namun, gagasan tersebut masih terkesan setengah-setengah.

Menurut dia, terobosan yang paling tepat adalah Jokowi menjabat satu periode lagi atau lima tahun lagi, bukan hanya ditambah tiga tahun.

"Kalau keran atau pintu amendemen UUD itu dibuka, apa salahnya? Daripada hanya menambah tiga tahun lebih baik tambah saja satu periode lagi, lima tahun penuh," kata Timothy.

Dengan tambahan lima tahun hingga 2029, Timothy yakin Jokowi lebih leluasa menuntaskan misinya menyongsong Indonesia Emas 2045, atau setidaknya menyiapkan Indonesia lebih baik menghadapi potensi krisis global. 

Kendati kurang pas, ia mengakui pernyataan Effendi Simbolon adalah angin segar bagi Jokowi Tiga Periode. Lebih lagi, Effendi adalah kader senior di partai penguasa PDIP. 

"Ini semakin membuka peluang bagi Jokowi satu periode lagi,” ucapnya.

Menurut dia, selama banyak masyarakat menghendaki Jokowi untuk menjabat satu periode lagi maka seharusnya proses amendemen konstitusi jadi lebih mulus. 

"Masyarakat dibiarkan saja menunjukkan kedaulatannya apakah mereka ingin Jokowi tiga periode atau mereka menginginkan selesai di 2024," ungkapnya.

Jika banyak dari masyarakat yang ingin Jokowi jadi presiden lagi di periode 2024-2029, ia menyarankan mereka untuk pergi berbondong-bondong ke Gedung MPR RI dan menggelar audiensi dengan anggota parlemen untuk menegaskan keinginan rakyat.

"Dengan begitu, parpol ketika akan melakukan amendemen, ada dasarnya yakni permintaan aspirasi, konstituen atau masyarakat Indonesia," ujarnya.

Di sisi lain dia menyadari bahwa mewujudkan gagasan Jokowi Tiga Periode bukan perkara mudah. Karenanya, ia meminta agar parpol, kelompok masyarakat, hingga relawan bergandengan tangan dan satu pemikiran demi terwujudnya amendemen konstitusi.

"Pada akhirnya Jokowi bisa tiga periode dan berpasangan dengan Prabowo Subianto," ujar Timothy.

Yang Mirip Jokowi

Direktur Executive Partner Politik Indonesia, AB Solissa, menilai pernyataan Effendi Simbolon itu tidak tepat dalam konteks waktu sekarang karena tahapan Pemilu 2024 sudah berjalan. 

Menurutnya spekulasi melenturkan batas masa jabatan presiden sudah berakhir sejak beberapa bulan lalu. 

"Pembatasan masa jabatan dua periode itu konstitusional. Tak perlu ditambahkan hanya karena pertimbangan kepentingan politik atau kalkulasi menang kalah," kata AB kepada Info Indonesia, Senin (8/8/2022).

Di sisi lain, ia mengakui banyak sekali prestasi Jokowi selama menjabat presiden. Jokowi cukup baik menjalankan tugas yang dimandatkan rakyat. Ia bekerja dengan kapasitas terbaik dari dirinya. 

Meski kepuasan dan kepercayaan rakyat kepada Jokowi tetap tinggi, AB berharap para politikus di Senayan tidak sampai menggulirkan wacana amendemen lewat sidang MPR. 

"Demokrasi di Indonesia sudah sangat sesuai pada jalurnya dan jangan diganggu-gugat. Tugas politisi adalah memastikan pemilu berjalan secara reguler sehingga konsolidasi demokrasi berjalan baik dan regenerasi kepemimpinan nasional juga dapat berjalan,” katanya.

Soal pendapat yang menyebut belum ada satu pun tokoh dalam bursa pencalonan 2024 yang punya kemampuan selevel Jokowi, dia tidak yakin Indonesia mengalami krisis figur pemimpin.

"Sangat banyak menurut saya figur yang mirip dengan Jokowi. Tinggal bagaimana diberikan kesempatan saja buat mereka berkompetisi secara adil dan demokratis," ujarnya. 

Artikel ini juga bisa Anda baca di Koran Info Indonesia edisi Selasa, 9 Agustus 2022.


Video Terkait:
Jokowi 3 Periode Ekonomi Pulih
Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo