WARNA-WARNI

Vape Tidak Ramah Paru-paru

Rokok Elektronik Enggak Lebih Aman Dari Rokok Konvensional

Pengguna rokok elektrik vape. (Foto: Mark Blinch / Reuters)
Pengguna rokok elektrik vape. (Foto: Mark Blinch / Reuters)


JAKARTA - Rokok elektronik atau vape selalu digaungkan lebih sehat, dibandingkan rokok konvensional berbahan baku tembakau. Padahal, enggak begitu.

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Agus Dwi Susanto mengatakan, keduanya sama-sama menyebabkan gangguan kesehatan.

Dalam rokok elektronik, terkandung nikotin, karsinogen, serta bahan toksik atau mengandung racun lainnya. Bahan-bahan inilah yang berisiko membahayakan kesehatan paru-paru.

"Jadi tidak benar kalau rokok elektronik lebih aman karena mereka sama-sama ada kandungan ini, meskipun tidak mengandung tar ternyata rokok elektronik itu ada bahan karsinogen," ujar Agus belum lama ini.

Dia mengatakan, banyak komponen dalam vape rokok elektronik tidak terdapat pada rokok konvensional, begitu pula sebaliknya.


Menurutnya, bahaya vape atau rokok elektronik ialah dapat menyebabkan adiksi atau ketagihan.

Dari riset yang dilakukan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dan Rumah Sakit Persahabatan tahun 2018, pada 71 subjek laki-laki, yang mana 34 orang di antaranya pengguna vape dan 37 lainnya bukan pengguna.

Hasilnya menunjukkan, sebanyak 76,5 persen pengguna rokok elektronik reguler mempunyai ketergantungan nikotin.

 

Prevalensi Perokok Vape di Indonesia

Berdasarkan data Global Youth Survey tahun 2011, prevalensi pengguna rokok elektronik di Indonesia meningkat dari 0,3 persen di tahun 2011 menjadi 1,2 persen tahun 2016, dan 10,9 persen pada 2018.

Faktanya, mengutip riset National Academies of Science, Engineering and Medicine yang dipublikasikan pada Januari 2018, rokok elektronik menyebabkan risiko merusak kesehatan.

Dikatakan oleh Agus, rokok ini juga mengandung dan mengemisikan sejumlah bahan berpotensi berbahaya maupun toksik.

Vape rokok menghasilkan sejumlah bahan kimia berbahaya seperti asetaldehida, akrolein, dan formaldehida yang menyebabkan penyakit paru.

Selain itu, bahaya vape rokok elektrik ini juga dapat menyebabkan masalah paru seperti penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), asma, serta kanker paru.

Vape Sebabkan Evali
Evali adalah penyakit paru-paru yang diakibatkan mengkonsumsi rokok elektrik atau vape.

Evali tercatat pernah terjadi di Amerika, paru-paru pasien mengalami kerusakan akut setelah mengonsumsi vape rokok selama beberapa minggu.

Pasien juga memerlukan perawatan di ICU, dan memakai ventilator.

Vape Menyebabkan Paru-paru Bocor
Kasus paru-paru bocor pernah terjadi di banyak negara, contohanya di Amerika Serikat, Malaysia, dan Indonesia.

Dalam satu kasus di Amerika Serikat pada remaja usia 18 tahun, dilaporkan telah mengalami paru-paru bocor hingga memerlukan pemasangan selang di dada. Pasien itu memiliki riwayat penggunaan vaping selama 1,5 tahun.

Untuk kasus di Indonesia, laki-laki 23 tahun mengeluhkan sesak napas, mengalami batuk dan akhirnya memerlukan pemasangan selang di dada.

Pasien yang telah menggunakan rokok konvensional sejak 10 tahun lalu tidak mengalami masalah apapun.

Namun dalam 1 tahun terakhir menggunakan vape, dengan 50 hisap per hari, merasakan keluhan. Hasil rontgen dada ada hidropneumothoraks di kiri, tidak ada infiltrat. Hasil evaluasi TB negatif.

Vape Menyebabkan Radang Paru-paru
Efek buruk vape rokok selanjutnya dialami seorang pasien laki-laki usia 18 tahun di Indonesia, memiliki keluhan sesak napas dan batuk-batuk sejak 3 minggu.

Muncul demam di awal, dan batuk disertai sedikit bercak darah. Dia tidak memiliki riwayat tuberkulosis (TB) dan asma, namun pasien diketahui menggunakan vape dalam 3 bulan. Pasien akhirnya didiagnosis mengalami penumonia atau radang paru.

Vape Tingkatkan Risiko Kanker Paru
Penelitian oleh Moon-Shong Tang dan kawan-kawan tahun 2019 di Taiwan yang dipublikasikan di PNAS pada mencit di laboratorium menunjukkan, bahaya vape rokok atau rokok elektronik dapat meningkatkan risiko kanker paru.

Hasil penelitian, sembilan dari 40 mencit atau 22,5 persen yang terpapar asap rokok elektronik dengan kandungan nikotin selama 54 minggu timbul kanker paru jenis adenokarsinoma.

Editor: Saeful Anwar