POLHUKAM

PILPRES 2024

Pilpres 2024 Tanpa Oposisi

Peneliti Senior LSI Denny JA, Ardian Sopa, memaparkan hasil survei terbaru di Jakarta, Senin (15/8/2022). (LSI Denny JA)
Peneliti Senior LSI Denny JA, Ardian Sopa, memaparkan hasil survei terbaru di Jakarta, Senin (15/8/2022). (LSI Denny JA)


JAKARTA - Hasil survei yang digelar oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyebut Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang terdiri dari Partai Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) lebih unggul di segmen pemilih yang moderat.

"Poros PDIP lebih unggul di segmen pemilih yang puas dengan kinerja Jokowi," kata Peneliti Senior LSI Denny JA, Ardian Sopa, saat memaparkan hasil survei terbaru di Jakarta, Senin (15/8/2022).

Sementara itu, poros bentukan Partai Gerindra dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) lebih unggul di segmen pemilih yang kurang puas dengan kinerja pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Ardian menjelaskan, hampir mustahil jika PDI Perjuangan bertarung dalam Pilpres 2024 seorang diri tanpa menggandeng parpol lain, walaupun sudah memenuhi syarat pencalonan (presidential threshold) minimal 20 persen.

"PDIP mustahil menggandeng PKS karena alasan ideologis. Begitu pun menggandeng Demokrat karena riwayat hubungan Megawati-SBY," ujarnya melalui siaran pers.


Tak hanya itu, menurut Ardian, kecil kemungkinannya bila PDIP menggandeng Partai Nasdem karena irama politik Ketum PDIP, Megawati Soekarnoputri, dengan Ketum Partai Nasdem, Surya Paloh, tidak sejalan.

Dia mengatakan, dalam bulan-bulan terakhir masa pendaftaran, yakni September 2023, sangat mungkin PDIP mengajak Partai Gerindra atau PKB atau KIB untuk menyatukan kekuatan. Sementara KIB sendiri sangat mungkin untuk menambah kekuatan.

"Hanya tiga partai saja bagi KIB sangatlah riskan. Jika satu partai mengundurkan diri, itu akan membuat KIB tak lagi memenuhi syarat pencalonan capres- cawapres 20 persen," jelas Ardian.

Menurut dia, bagi KIB, satu parpol yang mungkin diajak adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) atau Partai Demokrat. Hal itu lantaran keduanya tidak memiliki bargaining yang kuat untuk meminta posisi calon presiden.

"Pilpres 2024-2029 tak diikuti koalisi partai oposisi. Itu karena hanya dua partai yang kini di luar pemerintahan, Demokrat dan PKS. Gabungan dua partai ini tak cukup membentuk satu poros untuk mencalonkan presiden dan wapres 2024-2029," papar Ardian.

Dia mengatakan, Demokrat dan PKS terpaksa ikut dalam poros lain dan mereka bukan dalam level untuk memimpin poros tersebut.

"Prosentase kursi Demokrat dan PKS di DPR 2019-2024 tidak menonjol untuk memimpin poros koalisi partai mencalonkan capres- cawapres 2024-2029," jelas Ardian.

Dalam survei terbaru, LSI Denny JA memetakan tiga jenis pemilih berdasarkan respons mereka atas 10 indikator kinerja Presiden Jokowi yakni pemilih yang puas dengan kinerja Jokowi, pemilih yang moderat dan pemilih yang kurang puas.

Sepuluh indikator tersebut adalah persepsi publik terhadap lima aspek kehidupan nasional dan persepsi publik terhadap kinerja pemerintahan Jokowi dalam lima permasalahan penting dan mendasar.

Mereka yang menjawab baik/lebih baik dikategorikan sebagai pemilih puas, sementara mereka yang menjawab sedang dan sama saja dikategorikan sebagai pemilih moderat. Mereka yang menjawab buruk/semakin buruk dikategorikan sebagai pemilih yang tidak puas.

"Dibuat rata-rata, mereka yang puas di setiap indikator kinerja tersebut terdapat 35,98 persen pemilih. Jika dibuat rata-rata mereka yang menyatakan sedang atau sama saja di setiap indikator kinerja tersebut terdapat 29,8 persen pemilih yang moderat," beber Ardian.

Sedangkan pemilih yang tidak puas atas kinerja Presiden Jokowi berdasarkan 10 indikator itu jika dibuat rata-rata 30,27 persen.

Ardian menambahkan, Puan Maharani sebagai tokoh utama poros PDIP dan Airlangga Hartarto yang merupakan tokoh utama KIB sudah aman memiliki tiket untuk calon wakil presiden 2024-2029 bagi calon presiden yang kuat. 

"Namun, tidak menutup kemungkinan Puan Maharani dan Airlangga Hartarto menjadi capres 2024-2029 yang kuat, seperti halnya Prabowo Subianto jika mereka mampu menaikkan elektabilitasnya hingga masa pendaftaran di bulan September 2023," tutupnya.

Adapun, survei LSI Denny JA dilakukan terhadap 1.200 responden di 34 provinsi seluruh Indonesia. Wawancara dilaksanakan secara tatap muka (face to face interview) dengan margin of error sebesar plus minus 2,9 persen. Riset kualitatif dilakukan dengan analis media, Focus Group Discussion (FGD) dan in depth interview.

Artikel ini juga bisa Anda baca di Koran Info Indonesia edisi Selasa, 16 Agustus 2022.


Video Terkait:
PPP Harus Mampu Adptasi di 2024
Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo