POLHUKAM

Keluarga Cendana Tak Lagi Punya Pengaruh Politik

Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto (Istimewa)
Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto (Istimewa)


JAKARTA - Setelah Soeharto lengser, Keluarga Cendana terus berupaya untuk kembali ke panggung politik Tanah Air. Dengan “menjual” sang “Smiling General” untuk dapat merebut suara pemilih dalam Pemilihan Umum (Pemilu). Namun, usaha itu selalu kandas.

Pengamat politik Karyono Wibowo mengatakan, masyarakat Indonesia semakin kurang tertarik dengan sosok Soeharto. Karena, persoalan yang dihadapi oleh negara ini tidak mungkin dijawab oleh romantisme Orde Baru.

Menurut Karyono, kegagalan dua “Partai Cendana” sebelumnya, yakni Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) pada Pemilu 2004, dan Partai Berkarya pada pemilu lalu bukti kalau  figur Soeharto tidak bisa lagi dijual, dan pamor Soeharto semakin menurun.

Cendana, menurut Karyono, dalam posisi dilematis. Selain Soeharto yang tidak lagi laku dijual, kekuatan politik Cendana di Partai Golkar sudah habis.

“Itu bukti pengaruh Soeharto, pengaruh Cendana dalam kancah politik itu semakin melemah, tidak lagi sekuat dahulu. Walau secara financial sangat kuat," kata Karyono saat diwawancarai Info Indonesia, Kamis (18/8/2022).


Pernyataan Karyono menanggapi tidak lolosnya Partai Karya Republik (Pakar), yang dipimpin Ari Haryo Wibowo Harjojudanto (Ari Sigit), cucu Soeharto sebagai peserta Pemilu 2024.

Terkait meme Presiden ke-2 RI, Soeharto “piye kabare enak jamanku to” menurut Karyono itu hanya gimmick politik.

Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute (IPI) ini menyebut gimmick itu bisa saja diciptakan keluarga Cendana atau sisa-sisa Orba yang loyal pada Soeharto.

“Itu ungkapan yang tidak menggambarkan kenyatan. Ketika di survei, diriset secara ilmiah, tidak demikian. Faktanya, orang lebih enjoy merasakan situasi pasca Soeharto yang lebih baik, terutama soal demokrasi, penegakan hukum dan lainnya.”

 

Cendana Incar Beringin

Pada 2002, Siti Hardayanti Rukmana alias Mbak Tutut mendirikan Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB). Mantan Kepala Staf Angkatan Darat yang juga orang dekat Cendana, R Hartono, didapuk menjadi ketua umum PKPB.

Namun langkah Mbak Tutut yang ingin menjadi presiden pada Pemilu 2004 melalui PKPB gagal. PKBP menjadi partai buncit dan tak berhasil menempatkan satu pun wakilnya di Dewan Perwakilan Rakyat.

Gagal di PKPB, Mbak Tutut dikabarkan berniat maju dalam bursa calon Ketua Umum Partai Golkar melalui musyawarah nasional 2004. Namun nama putri sulung mendiang Presiden Soeharto itu akhirnya tak muncul di Munas Golkar tahun 2004. Lagi-lagi untuk sementara kiprah keluarga Cendana di panggung politik harus terhenti.

Lima tahun kemudian, 2009, nama Tommy Soeharto santer disebut maju dalam bursa calon ketua umum Golkar 2009 dalam munas partai di Riau. Sayang nasib putra kinasih Presiden Soeharto itu belumlah mujur. Dia gagal terpilih memimpin beringin.

Kiprah keluarga Cendana di panggung politik kembali tertunda.

Awal 2014 Siti Hediati Harijadi alias Mbak Titiek turun gunung. Mengusung slogan “enak zaman Soeharto”, Mbak Titiek maju sebagai calon anggota legislatif dari Partai Golkar.

Partai Golkar di bawah kepemimpinan Aburizal Bakrie (Ical) yang memang “menjual” nama Soeharto pada pemilu 2014 lalu menempatkan Mbak Titiek di nomor urut 1 daerah pemilihan Yogyakarta.

Mbak Titiek pun sukses melenggang ke Senayan menjadi anggota DPR periode 2014-2019. Partai Golkar kubu Ical juga menempatkan mantan isteri Prabowo Subianto itu di jajaran petinggi beringin. Mbak Titiek menjadi salah satu Wakil Ketua Umum DPP Golkar kubu Ical.

Saat kisruh Golkar antara kubu Ical dan Agung Laksono kian meruncing, pada 10 April lalu keluarga Cendana mencoba mengambil peran. Mbak Titiek dan Tommy Soeharto mengundang kubu Ical dalam sebuah acara santap siang di kantor keluarga Cendana di gedung Granadi, Kuningan, Jakarta Selatan.

Dalam jamuan santap siang, Tommy mengusulkan agar Golkar menggelar musyawarah nasional luar bisa. Meski mengusulkan Munaslub, Tommy tidak secara terang-terangan ingin maju dalam bursa ketua umum Golkar.

Isyarat lebih terang datang dari Mbak Titiek hari ini. Menurut dia banyak kader Golkar di daerah yang ingin keluarga Cendana mengambil alih kepemimpinan di Partai Golkar.

"Daerah-daerah lama-lama bersuara, 'Jadi, keluarga Pak Harto saja deh yang ambil oper'. Ada suara-suara seperti itu,"‎ kata Titiek di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (23/4/2015).

 

Cendana Bangun Berkarya

Medio 2016, Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto) sudah bukan merupakan politikus Partai Golkar, lantaran putra Presiden ke-2 RI, Soeharto itu sudah menjadi Ketua Dewan Pembina Partai Berkarya.

Kabar tersebut diungkap Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Partai Berkarya Badaruddin Andi Picunang.

"Secara legal pak Tommy sudah masuk Partai Berkarya dan meninggalkan Golkar," ujar Badaruddin di Jakarta, Senin (17/10/2016).

Badaruddin yang juga merupakan mantan politikus Golkar menekankan di dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) Partai Golkar tertulis jelas bahwa ketika seorang kader Golkar menjadi pengurus partai lain, maka keanggotaannya di Golkar gugur dengan sendirinya.

Tommy Soeharto pun blak-blakan mengungkap alasan dirinya mendirikan partai tersebut. Dalam diskusi santai di program Entertainment Talk Show di TvOne, Jumat (20/7/2018) malam, dia mengaku semakin miris dengan situasi politik saat ini.

“Setelah 20 tahun reformasi tapi tidak jelas hasil yang didapat, disini hati terpanggil. Bahwa zaman (orde baru) dulu parah, otoriter, tapi sekarang lebih banyak ada yang kena OTT berapa ratus kepala daerah ketangkap dan pejabat lainnya,” ujar Tommy.

Mantan pemilik PT Timor Putra Nasional ini mengaku melalui Partai Berkarya yang didirikannya akan mengedepankan visi dan misi ekonomi kerakyatan. Ya, hal ini tentu saja sejalan dengan pengalamannya yang mumpuni sebagai pengusaha di berbagai bidang industri.

“Ekonomi kerakyatan ujung tombak kami agar rakyat lebih menikmati hasilnya, sekarang pedagang yang mayoritas aja, kita pengen lebih adil lah. Pemerataan (ekonomi) gak ada yang menikmati, GDP orang tertentu aja yang menikmati sedangkan utang negara yang tanggung rakyat,” ujarnya.

“Dibanding secara objektif, utang negara dulu (orde baru) Rp150 triliun kurs Rp3.000 sekarang lebih tinggi lagi kurs Rp14 ribu.”

Sebulan setelah Tommy tampil di Entertainment Talk Show di TvOne, Baddarudin Andi Picunang menyampaikan kalau anak-anak Presiden ke-2 RI, Soeharto, akhirnya berlabuh di Partai Berkarya, besutan Tommy Soeharto

"Alhamdulillah semua keluarga Cendana berkarya di Partai Berkarnya," ujar Andi Picunang, Sabtu (21/7/2018).

Seluruh anak-anak Soeharto yang bergabung di Berkarya adalah Sigit Harjojudanto, Siti Hardiyanti Indra Rukmana (Tutut), Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Harijadi (Titiek), Hutomo Mandala Putra (Tommy), dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek).

 

Berkarya Tommy Soeharto Tak Diakui

Perjalanan Tommy Soeharto di Berkarya tidak mulus. Partai Berkarya di bawah pimpinan Tommy Soeharto tak diakui pemerintah setelah Mahkamah Agung (MA) mengabulkan kasasi pengurus Berkarya kubu Syamsul Djalal, Muchdi Purwoprandojo, dan Menkumham Yasonna H. Laoly terkait kepengurusan partai tersebut.

Dengan demikian kepengurusan Berkarya pimpinan Muchdi Pr yang diakui oleh pemerintah karena sudah terdaftar dan mendapat SK Menkumham.

Putusan itu dijatuhkan MA pada Selasa, 22 Maret 2022. Perkara diadili oleh Ketua Majelis Irfan Fachruddin dengan Hakim Anggota masing-masing Yosran dan Is Sudaryono.

"Kabul kasasi, Batal Judex Facti (PTUN Jakarta dan PT TUN Jakarta), adili sendiri: gugatan tidak diterima," demikian petikan putusan MA.

Konflik di tubuh Partai Berkarya memanas sejak Juli 2020. Kala itu, sejumlah pengurus Partai Berkarya menggelar Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) di Hotel Grand Kemang, yang melengserkan Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto dari kursi ketua umum.

Hasilnya, Muchdi Pr terpilih sebagai ketua umum dan Badaruddin Andi Picunang sebagai sekretaris jenderal (sekjen).

Muchdi Pr kemudian mendaftarkan kepengurusan Partai Berkarya hasil Munaslub ke Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) dan disetujui lewat penerbitan Surat Keputusan (SK) terkait perubahan struktur kepengurusan pimpinan pusat Partai Berkarya periode 2020-2025.

Namun, Tommy tidak terima dan menggugat ke PTUN Jakarta. Gugatan itu dikabulkan pada Februari 2021 silam, demikian di tingkat banding. Namun, gugatan tersebut kandas di tingkat kasasi.
Hingga berita ini ditulis, belum ada respons dari pihak Tommy terkait hasil Kasasi MA tersebut. CNNIndonesia.com, telah menghubungi Sekjen Berkarya, Priyo Budi lewat pesan singkat dan telepon namun tak direspons.

 

Tommy Soeharto di Balik Parsindo

Setelah kalah dalam sengketa, Partai Berkarya Pimpinan Tommy Soeharto melebur ke Partai Parsindo (Partai Swara Rakyat Indonesia) Pimpinan HM. Jusuf Rizal yang terpilih secara aklamasi dalam Munas II Partai Parsindo Periode 2022-2027.

Kader-Kader kedua Partai tersebut kini menjadi satu, serta membentuk kepengurusan bersama, baik di DPP, DPW, DPD, DPC hingga struruktur yang paling bawah DPRT.

Ketua Umum Partai Parsindo, HM. Jusuf Rizal dalam sambutannya mengatakan penggabungan kedua partai tersebut merupakan dinamika politik menuju Pemilu 2024. Bagian dari Konsolidasi dan Koordinasi guna memperkuat basis maupun konstituen.

“Setelah Munas II Partai Parsindo, pengurus akan segera turun melakukan konsolidasi. Melakukan penguatan maupun mengajak kader-kader Partai Berkarya, Parsindo maupun masyarakat yang ingin bergabung di Partai Parsindo,” kata Jusuf Rizal.

Parsindo menargetkan loyalis Soeharto sebagai target pemilih. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Parsindo Jusuf Rizal, Jumat (12/8/2022).

Lebih lanjut Jusuf mengatakan peninggalan Soeharto di masa lalu tidak seburuk yang dibayangkan.

"Target kita loyalis Soeharto. Di Republik ini tidak ada satu parpol yang bisa bertahan kalau tidak punya figur dan tidak punya basis. Soeharto kan punya juga loyalis, karna peninggalan sejarah Soeharto tidak jelek jelek banget di Republik ini," ujar Jusuf.

Lebih lanjut, Jusuf juga menegaskan memang dulu Soeharto lengser disebabkan oleh Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), tapi ia mempertanyakan kembali apakah saat ini kasus KKN berkurang atau justru lebih banyak.

"Dulu dikatakan pak Harto karena KKN maka reformasi 98 minta beliau mundur, pertanyaan sekarang KKN lebih banyak atau lebih berkurang? Kami partai Parsindo akan mengawal amanat reformasi 98 agar tetap on track memerangi KKN," kata Jusuf.

Editor: Saeful Anwar