EKONOMI

Optimistis Ekonomi Tumbuh, Inflasi Tetap Terjaga

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar. (Net)
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar. (Net)


JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis ekonomi Indonesia tetap tumbuh kuat di atas 5 persen tahun ini, meski terdapat kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang akan mempengaruhi inflasi dan perekonomian.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, mengatakan, kenaikan harga BBM justru memberi sinyal bahwa peningkatan untuk memenuhi kebutuhan permintaan di Indonesia dapat direspons dengan meningkatnya investasi. Lalu, pada gilirannya produksi dan pasokan dari berbagai barang dan jasa yang dibutuhkan.

Mahendra berharap, perbankan maupun keseluruhan lembaga pembiayaan dapat merespons dengan segera menyalurkan fungsi intermediasi kepada sektor riil yang membutuhkan pembiayaan maupun kredit, agar dapat meningkatkan produksinya maupun melakukan investasi.

Kenaikan harga BBM merupakan respons yang ditunggu dari pemerintah untuk menghadapi kondisi defisit anggaran, yang menjadi risiko tersendiri lantaran adanya kenaikan harga minyak dunia beberapa waktu belakangan.

Jika kondisi ketidakpastian global yang terus berlanjut tidak direspons dengan sesuai, maka akan memunculkan risiko yang dapat mempengaruhi kepercayaan terhadap kondisi ekonomi Indonesia maupun pengelolaan fiskal yang berkelanjutan.


Oleh karena itu, dengan kenaikan harga BBM yang telah ditetapkan tersebut, memberi kejelasan mengenai posisi dan kebijakan yang diambil pemerintah untuk tetap menjalankan kebijakan fiskal yang berkelanjutan, sekalipun ketidakpastian terhadap harga minyak terus berlangsung.

"Hal itu yang dapat memberikan sinyal kuat bagaimana langkah ke depan untuk menghadapi berbagai risiko yang ada. Ini juga memberikan sinyal yang sangat jelas dan menjaga kepercayaan bahwa pemerintah mengambil kebijakan yang memang berat, namun harus dilaksanakan," kata Mahendra dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (5/9/2022).

Dengan keyakinan yang ada, Mahendra berharap perbankan semakin bisa memanfaatkan likuiditas untuk segera menyalurkan kredit, baik melalui kredit modal kerja (KMK) maupun kredit investasi. Saat ini, KMK meningkat cukup tinggi dan jika pertumbuhan ekonomi terus terjaga, kredit investasi pun bisa turut mengikuti dalam beberapa waktu ke depan.

Sementara itu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, memproyeksikan kenaikan harga BBM akan mendorong inflasi Indonesia tahun ini berada di kisaran 6,6-6,8 persen.

“Kita sudah hitung 1,9 persen dampaknya dari kenaikan BBM ke inflasi. Proyeksi inflasi tahun ini yang akan mencapai 6,6-6,8 persen melebihi target pemerintah sebesar 4-4,8 persen,” kata Febrio.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi hingga Agustus 2022 sebesar 4,69 persen (yoy) yang turun dari bulan sebelumnya sebesar 4,94 persen (yoy).

Febrio menegaskan pemerintah akan terus menjaga tingkat inflasi Indonesia hingga akhir tahun agar mampu tetap di bawah 7 persen melalui terjaganya distribusi dan harga pangan.

“Sampai akhir tahun kami berusaha akan tetap menjaga dengan semua kombinasi tadi, yaitu harga pangan terjaga dan distribusinya ada. Sehingga harapannya (inflasi) bisa di bawah 7 persen di akhir tahun,” jelas Febrio.

Pada Sabtu (3/9/2022), pemerintah menaikkan harga BBM jenis Pertalite menjadi Rp10 ribu per liter dari Rp7.650 per liter, harga Solar dari Rp5.150 rupiah per liter menjadi Rp6.800 per liter, serta harga Pertamax dari Rp12.500 per liter menjadi Rp14.500 per liter.

Kenaikan ini dilakukan karena pemerintah mengalihkan subsidi BBM menjadi bantuan sosial, mengingat besaran subsidi dan kompensasi energi telah mencapai Rp502,4 triliun meliputi subsidi energi Rp208,9 triliun dan kompensasi energi Rp293,5 triliun.

Artikel ini juga bisa Anda baca di Koran Info Indonesia edisi Selasa, 6 September 2022.

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo