POLHUKAM

Pemberhentian Fadel Muhammad Tidak Beralasan

Senator Fadel Muhammad (tengah) dan pengacaranya Amin Fahrudin (kedua kiri) saat konferensi pers di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (9/9/2022). (Antara/Melalusa Susthira K)
Senator Fadel Muhammad (tengah) dan pengacaranya Amin Fahrudin (kedua kiri) saat konferensi pers di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (9/9/2022). (Antara/Melalusa Susthira K)


JAKARTA - Kuasa hukum Senator Fadel Muhammad, Amin Fahrudin, mengatakan bahwa alasan pemberhentian kliennya sebagai Wakil Ketua MPR RI dari unsur DPD RI tidak beralasan.

Amin menyebutkan, berdasarkan Undang-Undang tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD (UU MD3), pimpinan MPR memiliki masa jabatan sama dengan masa jabatan keanggotaan MPR, DPD dan DPR RI.

"Jadi tidak ada alasan untuk mengganti pimpinan MPR di tengah jalan dan apalagi di (UU) MD3 dijelaskan bahwa masa jabatan Wakil Ketua MPR atau masa jabatan Pimpinan MPR itu bersifat tetap lima tahun," jelasnya saat konferensi pers di Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (9/9/2022).

Lebih lanjut, Amin mengatakan bahwa dalam UU MD3 dan Tata Tertib MPR dijelaskan tiga hal yang bisa digunakan untuk mengganti pimpinan MPR yaitu meninggal dunia, mengundurkan diri dan diberhentikan. Di poin selanjutnya, alasan diberhentikan itu ada dua yakni jika diberhentikan dari keanggotaannya sebagai anggota DPR atau DPD itu melekat kepada jabatannya sebagai anggota DPR dan atau DPD.

"Yang kedua, adalah manakala dia tidak bisa menjalankan tugas secara berkelanjutan dan/atau dia berhalangan tetap," ujarnya.


Untuk itu, Amin menyebut posisi Fadel tidak memenuhi unsur-unsur tersebut karena tidak berhalangan tetap dan juga masih bisa menjalankan tugas sebagai pimpinan MPR secara berkelanjutan.

Amin juga menyebut dalam konsideran Surat Keputusan DPD RI Nomor: 2/DPD RI/1/2022-2023 Tentang Penggantian Pimpinan MPR Usul DPD Tahun 2022-2023 memberikan penegasan bahwa pencopotan Fadel sebagai Wakil Ketua MPR RI adalah proses politik yang ilegal dan inkonstitusional.

Pada Poin A dalam bab pertimbangan tersebut, DPD RI menggunakan diksi kedinamisan kepemimpinan atau dinamisasi kepemimpinan, dalam rangka meningkatkan optimalisasi dan menunjang tugas-tugas konstitusional DPD RI melalui MPR RI.

"Apakah dinamisasi kepemimpinan ini sebuah norma yang diatur dalam UU MD3, maupun dalam aturan turunannya yaitu Tatib MPR ataupun tatib DPD yang bisa digunakan sebagai instrumen untuk menarik pimpinan MPR dari unsur DPD?" katanya.

Selain itu, Amin menyebut DPD RI menggunakan instrumen mosi tidak percaya sebagai cara untuk mencopot Fadel dari posisi Wakil ketua MPR RI. Padahal, ujarnya lagi, instrumen mosi tidak percaya tidak dikenal dalam sistem pemerintahan presidensial sebagaimana yang dianut di Indonesia.

"Ini adalah instrumen yang melekat pada pemerintahan parlementer," ujarnya.

Sebelumnya, Rapat Paripurna DPD RI pada Kamis (18/8/2022) memutuskan Tamsil Linrung sebagai calon Pimpinan MPR RI dari unsur DPD RI menggantikan Fadel Muhammad.

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo