POLHUKAM

Biden Pongah, Jokowi Ogah Latah Salah Arah

Pandemi Mungkin Berakhir Pertengahan 2023

Ilustrasi. (Ma-miftahussaadah.sch.id)
Ilustrasi. (Ma-miftahussaadah.sch.id)


JAKARTA - Sinyal segera berakhirnya pandemi COVID-19 dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak digubris oleh Indonesia. Presiden Joko Widodo juga tidak terpengaruh pernyataan pemimpin Amerika Serikat, Joe Biden, yang begitu yakin pandemi sudah berakhir. 

Joe Biden menyatakan pandemi sudah berakhir dalam wawancara eksklusif yang ditayangkan CBS News, Minggu lalu. 

"Pandemi sudah berakhir," kata pemimpin negara adikuasa itu kepada jurnalis Scott Pelley. 

Biden mengakui AS masih memiliki banyak pekerjaan untuk melawan penularan COVID-19, tapi dia yakin pandemi sudah berakhir. 

"Jika Anda perhatikan, tidak ada lagi orang yang memakai masker. Semua orang tampaknya dalam kondisi yang cukup baik. Jadi saya pikir situasi berubah,” ujar Biden. 


Terlepas dari pernyataan Biden, virus corona yang terus bermutasi masih menimbulkan korban besar di AS dan seluruh dunia. 

Pemerintah AS masih menetapkan COVID-19 sebagai darurat kesehatan masyarakat. Pejabat kesehatan di sana memperpanjang status darurat kesehatan masyarakat akibat COVID-19 yang telah berlaku sejak Januari 2020 hingga 13 Oktober.

Sudah lebih dari satu juta warga Amerika meninggal dunia karena COVID-19. Data dari lembaga penelitian John Hopkins mencatat lebih dari dua juta kasus COVID-19 di negara itu dalam 28 hari terakhir, rata-rata kematian dalam tujuh hari terakhir mencapai lebih dari 400 orang. Di sisi lain, sekitar 65 persen dari total populasi AS disebut telah divaksinasi lengkap.

Pernyataan Biden bahwa pandemi telah berakhir dikabarkan mengejutkan beberapa pejabat kesehatan di dalam negerinya sendiri, termasuk para pemimpin dunia. Presiden Jokowi pun melontarkan reaksi atas klaim Biden itu. 

“Kalau untuk di Indonesia, kita tetap harus hati-hati, tetap harus waspada. Tidak usah tergesa-gesa, tidak usah segera menyatakan bahwa pandemi sudah selesai. Saya kira harus hati-hati,” kata Jokowi. 

Presiden mengatakan itu di sela peresmian Jalan Tol Cibitung-Cilincing dan Jalan Tol Serpong-Balaraja, disimak melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (20/9/2022).

Menurut mantan Gubernur DKI Jakarta ini, pandemi COVID-19 terjadi di seluruh negara di dunia dan yang bisa menyatakan pandemi selesai atau belum hanya WHO.

"Ada satu dua negara yang sekarang kasus corona-nya mulai naik lagi. Hati-hati. Kehati-hatian itu yang kita butuhkan," terang Jokowi.

Seminggu lalu, WHO merilis data bahwa jumlah kasus COVID-19 yang baru dilaporkan telah turun secara dramatis secara global. WHO mendesak dunia untuk memanfaatkan momentum ini untuk mengakhiri pandemi. 

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut kasus baru dilaporkan mengalami penurunan ke level terendah sejak Maret 2020.

"Kita tidak pernah berada dalam posisi yang lebih baik untuk mengakhiri pandemi ini. Kita belum sampai di sana, tetapi akhirnya sudah di depan mata," ujar Ghebreyesus.

Jangan Salah Arah

Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University Australia, Dicky Budiman, meyakini pernyataan pemimpin Amerika bahwa pandemi sudah berakhir itu bersifat pribadi. Keyakinan Biden belum memiliki dasar kuat secara indikator pandemi.

Dicky menegaskan, pandemi COVID-19 adalah wabah yang menimpa semua negara dan wilayah di seluruh dunia. Karena itu, akhir dari pandemi tidak bisa ditentukan oleh satu negara, meskipun sebesar AS. 

"Dan ingat, Amerika Serikat adalah salah satu negara yang terburuk terdampak pandemi COVID-19," kata Dicky kepada Info Indonesia, Selasa malam.

Dia mengamini saat ini adalah masa transisi. Indonesia ada di jalur yang tepat ke arah fase akhir pandemi COVID-19. Berarti, modal imunitas atau cakupan vaksinasi dosis kedua dan ketiga sudah berada di atas dari 70 persen.

"Tingkat imunitas yang sudah mencapai di atas 70 persen membuat tren angka keparahan orang masuk rumah sakit maupun tingkat kematian menurun signifikan," ucapnya.

Meski begitu dia setuju dengan sikap Presiden Jokowi bahwa Indonesia harus tetap hati-hati menghadapi pandemi. Kewaspadaan menghadapi pagebluk tetap harus jadi prioritas.

"Tentunya harus disadari bahwa kita bukan mau menuju endemi. Karena endemi itu enggak aman. Endemi itu tidak baik, endemi itu justru berbahaya," jelas Dicky.

Yang harus dituju Indonesia saat ini adalah status terkendali. Serangkaian kriteria untuk mencapai itu mulai dari vaksinasi, kemampuan mendeteksi, pengawasan (surveillance) maupun 3T (testing, tracing, dan  treatment). 

Untuk keluar dari krisis, aspek penguatan sistem kesehatan nasional merupakan modal paling penting. Sistem kesehatan yang tidak hanya bisa mendeteksi tapi merespons virus. Mulai dari bagaimana tindakan jika ada kasus hingga penentuan sistem rujukan. 

Gambaran suatu negara sudah keluar dari krisis kesehatan ini adalah menghilangnya stigma soal penyakit itu sendiri. Sistem kesehatan yang baik membuat orang yang sakit tidak takut berobat, tidak takut kehabisan obat, hingga tidak takut kehabisan tempat tidur. 

"Itu dia namanya sistem kesehatan yang baik. Orang tidak takut lagi mengalami fatalitas ketika terjangkit virus," ujarnya.

Sistem kesehatan yang baik itulah yang harus dituju oleh Indonesia, bukan ikut berlomba-lomba mengklaim pandemi sudah berakhir. 

Dia ingatkan lagi bahwa kondisi pandemi COVID-19 belum memasuki fase aman dan terkendali. Alasannya, obat COVID-19 masih menjadi isu yang belum tuntas dibahas. Durasi proteksi vaksin pun masih sangat singkat, walau efektif mencegah fatalitas dan keparahan penderita. Vaksin juga masih belum bisa mencegah potensi penularan.

"Jadi itu (sistem kesehatan) yang mesti harus dituju. Bahwa semuanya ini sudah sesuai jalur, iya. Tapi kalau kita abai, kalau kita akhirnya merasa sudah menang, bahkan menyatakan pandemi sudah berakhir padahal belum, situasi akan memburuk," tuturnya.

Pertengahan 2023

Laporan analisis Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan per 17 September 2022 menginformasikan penurunan laju kasus COVID-19 dalam dua pekan terakhir.

Tren kasus konfirmasi pada dua pekan terakhir mengalami penurunan dari 3.815 menjadi 2.367 kasus. Kasus aktif menurun dari 44.568 menjadi 30.525 kasus.

Dalam periode yang sama angka kematian mengalami penurunan dari 2,48 menjadi 2,47 persen. Jumlah pasien dirawat menurun dari 3.898 menjadi 3.341 orang.

Pun pada tren keterisian rumah sakit pada dua pekan terakhir turun dari 6,10 persen menjadi 5,34 persen dengan jumlah spesimen yang diperiksa menurun dari 79.083 menjadi 63.827 sampel.

Tren positivity rate dalam kurun waktu yang sama mengalami penurunan dari 10,28 persen menjadi 8,00 persen. Rasio kontak erat meningkat dari 7,5 menjadi 8,0 persen dari yang seharusnya di atas 15 persen.

Persentase cakupan vaksinasi COVID-19 primer dosis 1 sebesar 86,93 persen, persentase cakupan vaksinasi COVID-19 primer dosis 2 sebesar 72,70 persen, dan persentase cakupan vaksinasi booster 1 sebesar 26,59 persen dari total target sasaran 234,66 juta jiwa.

Data tersebut membuat Dicky memprediksi status pandemi COVID-19 di dunia alan berakhir paling lambat pada pertengahan 2023. Dengan catatan, semua indikator pendukung terpenuhi. 

"Saya prediksi, setidaknya bisa akhir tahun ini atau awal tahun depan. Atau bahkan paling lambat pertengahan tahun depan itu sudah bisa dicabut status Public Health Emergency International Concern (PHEIC). Itu artinya, secara tidak langsung mengakhiri pandemi," jelas Dicky. 

Dicky mengatakan, indikator yang dimaksud di antaranya angka kematian yang rendah, angka kasus orang dirawat di rumah sakit yang rendah, serta angka konfirmasi positif yang rendah. Menurut dia, hal itu bisa dicapai melalui intervensi kesehatan masyarakat dengan protokol kesehatan menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan (3M), serta 3T.

Selain itu, vaksinasi COVID-19 menjadi bagian terpenting dalam upaya menekan laju kasus agar mata rantai penularan pada penduduk rentan seperti lansia maupun mereka yang berkomorbid bisa diputus.

"Ini yang disebut bisa menjadi dasar bahwa endemi sudah on the track, bahwa akhir dari pandemi sudah kelihatan. Artinya, daya upaya yang dilakukan berbagai negara, termasuk Indonesia itu sudah benar, dan makanya ini adalah momentum untuk terus dipercepat, jangan sampai kita keduluan oleh mutasi virus ini," ujar Dicky.

Terpisah, epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono, mengatakan, posisi Indonesia pada akhir 2022 sangat tepat untuk mulai mengakhiri pandemi.

"Lakukan secara bertahap dengan menghapus pembatasan kegiatan masyarakat dan tetap mengejar cakupan vaksinasi," ujarnya.

Pandu mengatakan, September 2022 menjadi waktu transisi bagi Indonesia menuju ke fase pemulihan sosial ekonomi dengan memperhatikan kelompok yang paling terdampak. 

Lebih-lebih, WHO telah menyatakan endemi di depan mata berdasarkan indikator perkembangan kasus COVID-19 terkini di berbagai belahan dunia.

Artikel ini juga bisa Anda baca di Koran Info Indonesia edisi Rabu, 21 September 2022.


Video Terkait:
Keluarga Tak Penuhi Wasiat Syekh Ali Jaber
Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo