DAERAH

BI Gandeng Peneliti UNPAD Identifikasi Nilai Komoditas Pertanian NTB

 Suasana diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi yang dirangkaikan dengan kajian Rantai Nilai dan Nilai Tambah Produk Pertanian sebagai sektor utama pendukung perekonomian Provinsi NTB, di Gedung Serba Guna BI Provinsi NTB (Lalu Suparman Ambakti/Info Ind
Suasana diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi yang dirangkaikan dengan kajian Rantai Nilai dan Nilai Tambah Produk Pertanian sebagai sektor utama pendukung perekonomian Provinsi NTB, di Gedung Serba Guna BI Provinsi NTB (Lalu Suparman Ambakti/Info Ind


MATARAM - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bekerjasama dengan Tim Peneliti Universitas Padjajaran (UNPAD), yakni Teguh Santoso dan Eddy Renaldi untuk melakukan identifikasi terhadap rantai nilai komoditas pertanian untuk perbaikan rantai pasok mulai dari proses produksi hingga pada tingkat konsumen.

Hal itu disampaikan Kepala BI NTB Heru Saptaji saat diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi yang dirangkaikan dengan kajian Rantai Nilai dan Nilai Tambah Produk Pertanian sebagai sektor utama pendukung perekonomian Provinsi NTB, di Gedung Serba Guna BI Provinsi NTB, Rabu (21/9/2022)

"Komoditas yang diteliti sejumlah 11 komoditas yang dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu komoditas kontributor inflasi, komoditas pendorong pertumbuhan dan komoditas unggulan ekspor," ujarnya.

Dia menjelaskan, rekomendasi umum sebagai hasil dari kajian tersebut adalah terus dilaksanakannya operasi pasar untuk komoditas beras dan telur ayam di saat harga meningkat.

“Koordinasi terkait distribusi bawang merah dan dilakukan kampanye dan edukasi praktik urban farming untuk cabai merah,” jelas Heru.


Untuk jangka menengah, sambungnya, dapat dilakukan dengan penyusunan neraca pangan. Selain itu, perlu pembentukan lembaga yang berperan sebagai food hub, inisiasi pembangunan industri pengolahan pakan ternak lokal dan ekstensifikasi atau pembentukan sentra khusus jagung yang tidak memanfaatkan lahan sawah padi. 

“Tidak kalah penting pengembangan komoditas ekspor yang telah diukur prioritasnya mulai dari yang paling tinggi yaitu komoditas kopi robusta, rumput laut sargassum, vanilli organik, mutiara. rumput laut katoni, sarang burung walet dan lobster,” jelasnya. 

Heru berharap acara diseminasi kali ini dapat menjadi sarana menebar rasa optimis dan membangun persepsi positif kepada seluruh stakeholders dan masyarakat, sehingga kolaborasi dan kerja sama terus terjaga dalam mendukung pemulihan ekonomi, serta mencapai pertumbuhan yang lebih kuat dan berkelanjutan pasca pandemi Covid-19.

Sementara itu, Ketua Badan Supervisi Bank Indonesia M Edhie Purnawan menjelaskan bahwa inflasi dan harga komoditas global masih tinggi. Namun demikian, ekonomi Indonesia terus meningkat dan relatif lebih tinggi dibandingkan negara lain. 

“Sebagian besar sektor mampu mencatatkan pertumbuhan yang positif seperti sektor industri pengolahan dan sektor pertanian,” kata Edhie.


Video Terkait:
Penyelenggaraan MotoGP Indonesia Diundur
Editor: Amelia