POLHUKAM

PEMILU 2024

Menggarap 20 Juta Loyalis Pak Harto

Wawancara Eksklusif Dengan Ketua Umum Partai Swara Rakyat Indonesia (Parsindo), Jusuf Rizal

Ketua Umum Parsindo, Jusuf Rizal, menyerahkan berkas pendaftaran partai politik calon peserta Pemilu 2024 kepada Ketua KPU Hasyim Asyari, Jumat (12/8/2022).
Ketua Umum Parsindo, Jusuf Rizal, menyerahkan berkas pendaftaran partai politik calon peserta Pemilu 2024 kepada Ketua KPU Hasyim Asyari, Jumat (12/8/2022).


JAKARTA - Soeharto dan Orde Baru. Lebih dari dua dekade mendapat stigma horor dengan segala trauma politiknya, belakangan kian mendapat momentum untuk dirindukan.

Demikian Jusuf Rizal membuka sesi wawancara dengan Info Indonesia beberapa waktu lalu. Aktivis pendiri LSM Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) itu kami temui malam hari di ruang kerjanya, kantor DPP Partai Swara Rakyat Indonesia (Parsindo). Letaknya di Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan.

Dulunya, kantor itu dihuni para pengurus pusat Partai Berkarya. Dalam dinamika pasca-Pemilu 2019, partai berlambang beringin itu mengalami konflik. Sengketa yang berujung ke pengadilan mendepak Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto dari kepemimpinan, digantikan Muchdi PR.

Semangat Tommy dan gerbongnya tidak luntur. Putra Mahkota Cendana merapat ke Parsindo, yang cikal bakalnya adalah Organisasi Masyarakat (Ormas) Parsindo, akronim dari Perisai Swara Rakyat Indonesia, dipimpin Jusuf Rizal.

"Bukan partai dulu, tapi Ormas Perisai Swara Rakyat Indonesia. Jadi, ormas itu saya naikkan tingkatannya menjadi partai politik," terang Jusuf Rizal.


Parsindo secara terbuka menyatakan diri sebagai partai yang menjadikan Soeharto sebagai ikon, dan Orde Baru sebagai contoh pemerintahan yang pro kemajuan.

"Tokoh kami adalah Pak Harto, basis pendukung kami loyalis Pak Harto. Kami sudah melakukan pengamatan dan faktanya basis itu masih ada, jumlahnya lebih dari 20 juta orang," terang Jusuf Rizal.

Dia menekankan, bukan berarti Parsindo ingin membawa Indonesia berjalan mundur dan berkubang dalam kesalahan-kesalahan masa lalu.

"Kami pro perubahan, istilahnya adalah Orde Baru yang terbarukan," ucapnya.

Berikut kutipan wawancara eksklusif Pemimpin Redaksi Info Indonesia, Aldi Gultom, dengan Ketua Umum Parsindo, Jusuf Rizal. 

Anda bilang Parsindo menggarap loyalis Pak Harto. Anda punya data tentang basis-basis loyalis ini?

Begini, tidak mungkin kita membangun partai politik kalau kita tidak punya tokoh atau figur dan dan basis pendukung. Tanpa itu semua parpol di negeri ini tidak bisa survive. Lihat saja partai-partai yang besar itu semua mengandalkan figur. Gerindra dengan Prabowo, Nasdem punya Surya Paloh, Demokrat ada SBY, Hanura dulu Wiranto, begitu Wiranto-nya turun Hanura jeblok. 

Begitu dengan basis pemilih. PKS bersama Gelora mengggarap basis islam moderat, kemudian PAN dengan Partai Ummat menggarap Muhammadiyah. Di tempat yang sama ada PPP, PKB dan PBB. Ada juga yang menggarap basis loyalis Soekarno, misalnya PDIP. Sekarang saya menggarap loyalis Soeharto. Parsindo kami bentuk dengan kepengurusan yang baru, menggarap basis loyalis Pak Harto yang jumlahnya lebih dari 20 juta orang. Kami punya data dan pemetaaan basis-basisnya.

Mengusung Soeharto dan Orde Baru sebagai ikon partai bisa menarik simpati?

Basis pendukung Soeharto dan Orde Baru enggak pernah digarap orang. Kenapa orang enggak berani menggarap itu, karena pasca-reformasi tidak ada yang berani menyebut diri sebagai loyalis Pak Harto. Ada ketakutan dan trauma politik. Setelah 24 tahun reformasi, pada Juni lalu, saya bentuk paguyuban loyalis Soeharto sebagai basis pemilih pertama dari Parsindo. Tapi saya tidak akan berhenti di situ. Saya akan melebar ke kelompok milenial, baru saya garap yang religius, baru saya garap yang lain. Walau basis melebar, basis loyalis Pak Harto in yang paling kuat. Misalnya di Sumsel beberapa waktu lalu, saya mendatangi komunitas transmigrasi yang solid, masih ada 1 juta dari 11 juta penduduk yang loyalis Soeharto. Belum transmigrasi di Sumut, Bengkulu, Sulteng, macam-macam. Kemudian basis-basis pendukung di Lampung, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jogja. Parsindo itu makin kuat karena punya tokoh dan punya basis. Tokohnya Pak Harto, basisnya loyalis Pak Harto, kami sudah melakukan pengamatan dan faktanya basis itu masih ada. 

Selain jumlahnya yang riil, apa kekuatan dari basis-basis loyalis Soeharto ini yang menurut Anda bisa memperkuat Parsindo untuk 2024?

Loyalis-loyalis ini punya juga banyak jaringan komunitas, tapi selama ini tidak ada wadahnya dan tidak bersuara. Ketika saya bentuk paguyuban, barulah mereka bersuara.

Dan Anda pun menjadi sorotan dengan mengaku sebagai tokoh loyalis Pak Harto? 

Risikonya pasti saya menjadi pusat perhatian, ya enggak apa-apa.

Kita beralih ke proses verifikasi oleh KPU. Sejauh mana perkembangan dari verifikasi administrasi Parsindo?

Rata-rata kehadiran kami di daerah itu ada 100 persen, ada yang 85 persen, ada yang 90 persen, semua relatif hijau. Administrasi kami sudah lengkap, sekarang disuruh KPU untuk menyempurnakan, terutama soal keanggotaan ganda. Jumlahnya tidak terlalu banyak jadi kami lebih mudah menyesuaikannya.

Berarti yakin masuk ke tahap verifikasi faktual?

Ya, kami tinggal konsentrasi pada verifikasi faktual. Sebenarnya ada ketakutan di situ, dan itu bukan hanya kami tapi hampir semua parpol termasuk yang besar-besar karena mereka di verifikasi administrasi saja masih terseok-seok. Saya mau bilang, semua parpol menghadapi tantangan yang sama. Yang beda adalah cara menyelesaikannya, mencari solusi ini tergantung kepada penguatan jaringan yang dipakai. Kebetulan jaringan saya banyak. Saya punya LSM LIRA, saya punya serikat pekerja, saya punya jaringan media online di daerah-daerah, jadi itu menjadi penguatan-penguatan yang memudahkan konsolidasi dukungan.

Seyakin apa Parsindo lolos menjadi partai peserta Pemilu 2024?

Saya mempersiapkan Parsindo ini pas meleburnya Partai Berkarya-nya Mas Tommy, kami bikin Munas dan cuma dalam waktu dua bulan kami bisa lolos pendaftaran KPU. Sementara ada partai yang sudah sekian tahun berdiri tapi tidak bisa lolos syarat pendaftaran. Artinya apa? Penguatan jaringan-jaringan itu hidup. jaringan partai yang lama ada sebagian, ada juga yang sevisi dengan kita. Konsep pengembangan jaringan kami mandiri dan otonom. Tidak semua partai bisa seperti itu

Saya yakin Parsindo lolos faktual karena semangat kemandirian itu. Orang di daerah kalau mau membentuk DPW, DPD minta duit. Minta disiapkan kantor dan lain-lain. Saya bilang kalau disiapkan semua kayak begitu namanya shopping. Kita harus ubah mindset. Otonomi di daerah mereka masing-masing, kami otonomi di pusat untuk membangun. Biasanya SK kepengurusan itu dijual di daerah, tapi kami tidak begitu. Kami cari orang yang punya integritas, loyalitas, memiliki visi, visioner, supaya jalan.

Ada catatan jumlah orang yang sudah mendaftar jadi anggota Parsindo?

Para loyalis (Soeharto) ini sedang kita data untuk fix menjadi anggota. Misalnya ada 1 juta di Sumsel, ada sekian juta di Jawa Timur, ada sekian ratus ribu di daerah mana, ini mau kita masukkan ke dalam data base, sehingga kita punya angka pemilih yang jelas. Di dalam kelompok loyalis Pak Harto ini ada jaringan-jaringan. Itu akan kita tarik menjadi sekretariat bersama loyalis Soeharto. Itu yang kita gerakkan sebagai mesin. Semua kantor, orang, operasional mereka mandiri semua. Itu menggerakkan mobilisasi potensi loyalis, karena masih banyak orang yang berutang budi kepada Pak Harto, merindukan figur beliau.

Mereka kelompok lansia yang pernah besar di zaman Orba atau ada juga yang masih muda?

Loyalis Soeharto itu ya kira-kira sekarang usianya 50 sampai 60-an tahun. Yang 40 tahun ke bawah kita anggap generasi milenial, tapi di kalangan mereka juga ada yang paham kemajuan di era Orde Baru. Di kalangan lain juga ada. Bahkan Pondok Pesantren Suryalaya menobatkan Pak Harto sebagai Wali ke-10 Tanah Jawa. Kenapa? Karena Pak Harto konsisten mengembangkan syiar agama Islam, membuat masjid, terus memperkuat akidah. Kalau kami menyebutnya Pak Harto itu setengah dewa. Karena dia punya peninggalan-peninggalan yang bisa dirasakan masyarakat.

Gagasan-gagasan Parsindo menjiplak berbagai program Orde Baru?

Saya membawa semangat Orde Baru yang terbarukan. Tidak mungkin kita samakan masanya Pak Harto dengan zaman sekrang. Dulu tidak ada revolusi industri, sekarang itu ada. Misalnya, kita akan konsentrasi pada pembangunan pertanian, menghasilkan petani milenial. Mereka pasti tidak bisa menggunakan cangkul, tidak bisa bekerja dengan cara lama tapi mereka bisa menggunakan mesin yang mungkin saja memakai pengendali jarak jauh. Itu yang kita sebut dengan terbarukan. Ada yang bisa kita bawa dari Orde Baru, ada juga yang tidak bisa. Kita akan membangkitkan semangat Orde Baru yang terbarukan, adaptif dengan perubahan, mengikuti revolusi industri, termasuk salah satunya mengawal reformasi yang gagal.

Ada kritik Parsindo terhadap gerakan reformasi 98?

Pak Harto jatuh pada tahun 98 karena dianggap banyak korupsi. Mahasiswa turun ke jalan, termasuk saya. Beliau legowo mundur, menyerahkan kepada Habibie. Pertanyaannya, setelah 24 tahun, KKN makin sediki atau makin banyak? Artinya kan reformasi gagal. Mulai dari eksekutif, legislatif, yudikatif sampai kepala desa, banyak yang korupsi. Kalau dulu korupsi di bawah meja, sekarang meja-mejanya diangkat semua. Saya mengajak teman-teman mahasiswa yang pro perubahan, ayo kita koreksi reformasi ini.

Apa strategi Parsindo mengubah ikon Orde Baru yang dianggap sejarah kelam menjadi magnet buat calon pemilih?

Kita jalan saja sesuai dengan apa yang kita yakini, dan apa yang menjadi platform perjuangan kita. Makanya saya katakan Parsindo itu adalah rumah pergerakan utnuk perubahan. dan saya sudah terbiasa di situ. Membantu kepentingan rakyat, melawan korupsi sudah biasa. Saya bekerja untuk negeri saya, Indonesia. Caranya, saya lakukan apa yang saya yakini. Tantangan itu bagian dari dinamika untuk mencapai cita-cita.

Apa kegelisahan Anda pribadi menyangkut era reformasi?

Kita harus melakukan langkah-langkah tegas terhadap orang yang melanggar hukum. Caranya bagaimana? Itu tergantung kebijakan penguasa. Sikap tegas terhadap instabilitas keamanan itu harus dilakukan. Tindakan tegas itu harus ada, tapi bukan berarti sedikit-sedikit melanggar HAM. Kalau kita cinta sama anak kita bukan berarti kita biarkan anak kita melakukan pelanggaran. Sekarang, di zaman revolusi industri, kedisiplinan kita juga kurang, rasa tanggung jawab kita kurang, nasionalisme kita terkikis.

Orang-orang beragama tapi tidak bertuhan. Kalau dia bertuhan dia pasti malu kalau disebut korupsi. Sekarang? Malah lambai-lambaikan tangan masuk TV. Itu kemajuan atau kemunduran? Budaya saling menghormati itu juga kian menipis. Mungkin itu semua terjadi karena kita terlalu banyak membangun gedung tapi lupa membangun mental bangsa.

Apa kritik utama Anda terhadap pemerintahan saat ini?

Kami tidak mengkritik, kami memberikan masukan. Misalnya ketika BBM naik, saran dari Parsindo sebaiknya pemerintah mencari alternatif sebelum mengambil keputusan menaikkan BBM. Apa alternatifnya? Satu, jadwal ulang proyek-proyek mercusuar yang membebani APBN. 

Kedua, tutup keran keran kebocoran korupsi. Ketiga, potong gaji pejabat DPR, eksekutif, dan segala macam sampai tingkat tertentu di kalangan ASN. Mereka bisa patriotik, rela berkorban untuk negerinya.

Ada alternatif-alternatif menambah pemasukan negara. Misalnya legalisasi perjudian. Bisnis ini paling banyak investor asingnya. Bikin saja wisata judi daripada dikelola orang-orang dimakan sendiri dan muncul seperti kasus Ferdy Sambo. Mendingan dikanalisasi oleh pemerintah, dan penghasilan negara bisa triliunan. Zaman Pak Ali Sadikin itu bisa, dan dulu ada SDSB yang hasilnya bisa bikin rumah sakit kanker, kantor Kementerian Sosial.


Video Terkait:
TMII Diambil Alih dari Keluarga Soeharto
Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo