POLHUKAM

Dua Parpol Baru Masuk Parlemen

Ilustrasi. (Net)
Ilustrasi. (Net)


JAKARTA - Pemilu 2024 diprediksi melahirkan dua partai politik baru yang berhasil masuk parlemen.

Demikian pandangan Direktur Eksekutif Sindikasi Pemilu dan Demokrasi (SPD), Erik Kurniawan, dalam sebuah diskusi online yang diselenggarakan Parwa Institute, dikutip dari Antara, Selasa (27/9/2022).

Menurut Erik, prediksi lolosnya dua partai baru ke parlemen berdasarkan volatilitas atau perpindahan suara pemilih dari satu partai ke partai lain. Dia melihat angka volatilitas pemilih menurun signifikan dari pemilu ke pemilu, mulai dari Pemilu 1999 sampai Pemilu 2019.

"Sekarang itu tingkat volatilitas partai-partai kita itu di angka 10 persen. Kalau Pemilu 2014 itu sekitar 26 koma sekian persen hampir 27 persen," ujarnya.

Mengacu pada 4 persen syarat parliamentary threshold dan asumsi 10 persen volatilitas pemilu tersebut, hanya dua parpol baru yang berhasil menduduki parlemen lewat Pemilu 2024. Itu pun dengan catatan suara pemilih terkonsentrasi atau tidak menyebar.


"Kalau pada Pemilu 2019 itu menyebar, suara partai politik yang tidak lolos parliamentary threshold itu 9,71 persen dan itu menyebar pada enam partai. Kalau itu terkonsentrasi pada dua partai maka partai politik baru bisa lolos, asumsinya begitu," jelas Erik.

Selain volatilitas pemilu yang menurun, Erik menyebut rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap parpol juga menjadi tantangan tersendiri yang dihadapi parpol lama maupun baru.

"Tantangan bagi partai baru, bagaimana kemudian memperkuat kelembagaannya, bagaimana menghadirkan narasi baru sebagai alternatif pilihan bagi publik," ujarnya.

Tantangan lain yang lebih besar adalah syarat-syarat kepesertaan untuk menjadi parpol peserta pemilu.

"Parpol harus memiliki kepengurusan di semua provinsi, pada 75 persen kabupaten kota dan belum lagi syarat keanggotaan. Itu yang kemudian di titik tertentu pasti akan memunculkan batasan bagi hadirnya partai-partai baru," jelasnya.

Tantangan selanjutnya menyangkut otonomi atau pengorganisasian partai itu sendiri mengingat hampir semua parpol di Indonesia masih amat bergantung pada ketokohan.

"Seringkali partai-partai baru tidak punya ruang gerak yang otonom dan seringnya bergantung pada figur-figur yang memang kuat. Tapi, itu problemnya enggak hanya di partai baru," ujarnya.

Erik menyarankan parpol baru yang berhasil lolos menjadi peserta pemilu lebih mendekatkan diri ke pemilih, salah satunya dengan tidak lagi menggunakan identitas partai secara mutlak tetapi mulai mengasosiasikan platform-platform partai dengan isu yang berkembang di publik. Erik juga berpendapat parpol baru memiliki peluang mengerek elektabilitas dengan memberikan dukungan kepada bakal calon presiden yang disukai publik.

"Mengasosiasikan platform kebijakan partai dengan visi misi presiden sedekat mungkin itu juga bisa jadi peluang bagi partai politik baru dalam meningkatkan potensi elektabilitas," tuturnya.

Artikel ini juga bisa Anda baca di Koran Info Indonesia edisi Rabu, 28 September 2022.


Video Terkait:
Mendagri Tegaskan Pemilu 2024 Tetap Berlangsung
Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo