EKONOMI

Ekonomi Indonesia Memang Tumbuh Positif, Tapi Tidak Boleh Lengah di Tengah Krisis

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar


JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut perekonomian Indonesia saat ini dalam pertumbuhan yang positif. Namun, hal itu tidak boleh membuat pemerintah dan masyarakat lengah di tengah gejolak ekonomi global yang diprediksi masih terus berlanjut.

"Kita siapkan diri mengantisipasi masuk ke tahun-tahun depan ini. Jangan berandai-andai bahwa Indonesia pertumbuhannya tetap di atas lima persen, bahkan untuk beberapa waktu terakhir mencapai rekor 5,72 persen untuk kuartal tiga itu kita harus syukuri, tapi lesson learned tadi mengatakan kita tidak boleh lengah," kata Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, dalam CEO Networking 2022 di Jakarta, Kamis (24/11/2022).

Menurut Mahendra, lesson learned atau pelajaran yang bisa diambil yang dimaksud adalah terjadinya bonds rush di Inggris, bangkrutnya bursa kripto FTX, hingga gagal bayar Legoland asal Korea Selatan. Risiko-risiko yang akan muncul pada waktu mendatang bisa muncul dari mana pun.

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, risiko yang bersifat sistemik biasanya datang dari perbankan, baik bank komersial maupun bank investasi. Kendati demikian, sepanjang tahun ini saja, risiko-risiko yang muncul justru bukan dari perbankan.

"Pertama bagaimana kebijakan perpajakan fiskal suatu negara, yaitu Inggris, kemudian menyebabkan krisis suku bunga dan juga kepercayaan kepada obligasi pemerintahnya, lalu menyebabkan bonds rush. Itu tidak terbayangkan di waktu yang lalu bahwa bonds rush itu bisa datang justru dari kebijakan fiskal, apalagi di negara maju," terangnya.


Selanjutnya, kebangkrutan salah satu pasar kripto terbesar di dunia, yaitu FTX, dengan produknya FTT. Persoalan tata kelola, transparansi, dan juga pengawasan, ternyata bisa luput dari para investor, modal ventura, investment fund atau hedge fund yang namanya luar biasa besar dan reputasinya begitu hebat di dunia.

"Kita pikir kalau investor seperti itu pasti sudah melakukan due diligence yang luar biasa. Ternyata ada yang menanamkan investasinya sampai tiga series di FTX, jadi hilang semua, jadi bayangkan," ujar Mahendra.

Terakhir, surat utang sebesar KRW205 miliar atau setara USD144 juta untuk proyek Legoland Korea tidak dibayarkan pada tanggal jatuh tempo 29 September 2022. Gagal bayar oleh Legoland tersebut mengakibatkan terjadinya corporate bonds rush di seluruh Korea Selatan.

"Ini yang kita alami. Jadi, bukan hanya the perfect storm situation, tapi risk can come and have come from different and unexpected side," katanya.

Editor: Rusdiyono